Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | The Salesman’s Diary : Catatan Perjalanan Seorang Salesman.
MEMASUKI DUNIA YANG SESUNGGUHNYA
Catatan #011

Belajar dari Orang-Orang Kecil
Pukul delapan pagi kami kembali berkumpul di ruang briefing distributor.
Ruangan itu sederhana.
Di dinding tergantung peta wilayah Timur Kota Jayakarta yang mulai memudar warnanya.
Beberapa titik diberi pin warna-warni.
Merah.
Biru.
Hijau.
Setiap pin mewakili area penjualan.
Belum ada Google Maps.
Belum ada GPS.
Belum ada dashboard digital.
Yang ada hanyalah peta kertas, spidol, dan pengalaman bertahun-tahun.
Pak Wibisono berdiri di depan papan tulis.
Beliau tidak pernah berbicara keras.
Tetapi semua orang selalu memperhatikannya.
“Ris.”
“Apa yang kamu dapat kemarin?”
Aku menarik napas.
“Lumayan banyak, Pak.”
Beliau tersenyum tipis.
“Coba cerita.”
Aku mulai menceritakan semuanya.
Tentang warung kopi tempat para salesman berkumpul.
Tentang Bang Sofwan yang mengenal hampir seluruh penghuni pasar.
Tentang cara beliau membaca rak tanpa bertanya kepada pemilik toko.
Tentang Inem.
Tentang collection.
Tentang routing plan yang ternyata membentuk lintasan melingkar hingga kembali ke distributor.
Aku juga menceritakan nasihat-nasihat Bang Sofwan yang terus terngiang di kepalaku.
Pak Wibisono mendengarkan tanpa menyela.
Sesekali beliau hanya mengangguk.
“Lalu…”
Beliau bertanya pelan.
“Menurutmu…”
“Outlet yang di-cover Sofwan sudah tepat?”
Aku menjawab mantap.
“Sudah, Pak.”
“Mayoritas STG, LTG, dan wholesaler.”
“Beliau juga memperhatikan availability, display, freshness, bahkan membantu collection di beberapa outlet yang bermasalah.”
Pak Wibi tersenyum.
“Good.”
Beliau berjalan mendekat.
“Nah…”
“Sekarang kamu mulai melihat.”
Aku menatap beliau.
“Perbedaan kelas…”
“…dan kenyataan.”
Aku mengangguk.
Beliau melanjutkan.
“Di kelas…”
“kamu belajar konsep.”
“Di lapangan…”
“kamu belajar manusia.”
Kalimat itu langsung kutulis di buku catatanku.
Pak Wibi kembali bertanya.
“Hari ini mau ikut siapa?”
Aku sudah memikirkannya sejak semalam.
“Saya ingin ikut mobil delivery, Pak.”
Beliau menaikkan alis.
“Kenapa?”
“Saya sudah melihat proses order.”
“Semalam saya belajar proses fakturing bersama sales admin.”
“Sekarang saya ingin melihat bagaimana pesanan sampai ke tangan pelanggan.”
Beliau tersenyum puas.
“Bagus.”
Tetapi…
seperti biasa…
Pak Wibi selalu memberi tantangan.
“Yakin?”
“Mobilnya nggak pakai AC.”
“Kamu harus angkat karton susu.”
“Kopi.”
“Cokelat.”
“Naik tangga pasar.”
“Kuat?”
Aku langsung menjawab,
“Siap, Pak.”
Beliau masih memperhatikanku.
“Dulu waktu SMP…”
“…saya pernah jadi kuli angkut di Pasar Kliwon.”
Pak Wibi tampak sedikit terkejut.
Aku melanjutkan.
“Kalau libur sekolah…”
“…saya nyemir sepatu.”
“Kadang bantu orang angkat belanjaan.”
“Ke becak.”
“Ke bemo.”
“Ke mobil.”
Ruangan mendadak hening.
Aku sendiri baru sadar…
bahwa masa kecil yang dulu sering membuatku minder…
hari itu justru menjadi bekal terbesarku.
Pak Wibi tersenyum lebar.
“Pantas.”
“Pantes kamu nggak canggung di pasar.”
Aku hanya membalas senyum.
Dalam hati aku teringat Ibu.
Sejak kecil beliau selalu mengajakku ke pasar.
Aku menyaksikan sendiri bagaimana beliau menawar harga dengan sopan.
Menghafal nama pedagang.
Mengingat anak-anak mereka.
Kadang berutang.
Kadang membayar lebih ketika pedagang sedang kesulitan.
Tanpa sadar…
pelajaran pertama tentang rapport, relationship, dan negosiasi ternyata bukan kudapat dari ruang training.
Melainkan dari tangan seorang ibu sederhana.
“Ya sudah.”
“Langsung cari Mas Parjo.”
“Mobil nomor tiga.”
Aku mengangguk.
“Siap, Pak.”
Gudang distributor sudah sibuk.
Forklift mondar-mandir.
Suara lakban.
Suara kardus bergesekan.
Suara orang memanggil nomor faktur.
Aku menemukan Mas Parjo.
Tubuhnya kurus.
Kulitnya legam.
Tetapi senyumnya ramah.
“Mas Faris?”
“Iya.”
“Ikut saya aja.”
Beliau langsung mengajakku menyusun barang.
Aku baru menyadari satu hal.
Loading barang ternyata juga ada ilmunya.
“Outlet terakhir…”
“…taruh paling depan.”
Aku heran.
“Bukannya kebalik?”
Mas Parjo tertawa.
“Kalau dibalik…”
“…nanti bongkar dua kali.”
Aku mengangguk.
Hari itu aku belajar bahwa efisiensi tidak hanya terjadi di ruang rapat.
Tetapi juga di dalam bak sebuah truk.
Mobil Colt Diesel itu mungkin sudah berusia lebih dari lima tahun.
Catnya mulai kusam.
Beberapa bagian bumper tampak bekas dempul.
Namun ketika mesin dinyalakan…
suaranya masih terdengar gagah.
Mas Parjo menepuk dashboard sambil tersenyum.
“Jangan lihat mukanya.”
“Mesinnya masih singa.”
Aku tertawa.
Aku mulai menyukai cara orang-orang lapangan memberi julukan pada benda-benda yang mereka cintai.
Pukul sepuluh tepat.
Mobil mulai meninggalkan gudang.
Aku duduk di tengah.
Di sebelah kiri Mas Parjo.
Di sebelah kanan Mas Anto.
Kabinnya sempit.
Panas.
Tanpa AC.
Tetapi jendela terbuka lebar.
Angin siang menerpa wajah kami.
Tidak ada yang mengeluh.
Sesampainya di Pasar Rawabangkit…
kami langsung bekerja.
Aku sudah hafal hampir semua outlet yang kemarin dikunjungi Bang Sofwan.
Kami mengangkat karton satu demi satu.
Naik tangga.
Turun tangga.
Masuk lorong.
Keluar lorong.
Keringat mengalir tanpa henti.
Tetapi entah kenapa…
aku menikmatinya.
Aku merasa sedang belajar sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar mengantar barang.
Aku sedang belajar bahwa setiap faktur yang keluar dari kantor…
baru menjadi penjualan yang sesungguhnya ketika barang benar-benar tiba di tangan pelanggan.
Di salah satu outlet…
kejadian tak terduga terjadi.
Mas Anto menyerahkan faktur.
“Ibu…”
“Pembayarannya COD.”
Pemilik toko, Bu Sanger, langsung mengernyit.
“Apa?”
“Saya pesan kredit tujuh hari!”
Mas Anto tampak gugup.
“Di faktur tertulis COD, Bu.”
“Salah!”
Suara Bu Sanger meninggi.
“Kalau kerja yang becus!”
Aku melihat wajah Mas Anto memucat.
Aku segera menghampiri.
“Permisi, Bu.”
“Masih ingat saya?”
Beliau memperhatikanku beberapa detik.
Lalu tersenyum kaku.
“Oh…”
“Mas Faris…”
“Yang kemarin sama Bang Sofwan.”
Aku mengangguk.
“Kemarin saya ikut saat Ibu memesan.”
“Kalau tidak salah…”
“Ibu sendiri yang memilih pembayaran tunai.”
Wajah Bu Sanger berubah.
Beliau terdiam beberapa saat.
Lalu tersenyum.
“Oh iya ya…”
“Maaf…”
“Mungkin saya lupa.”
Aku tidak menjawab.
Mas Anto masuk ke dalam toko.
Beberapa menit kemudian ia kembali.
Di tangannya…
faktur yang sama.
Namun tulisan COD telah dicoret.
Diganti menjadi Kredit 7 Hari.
Aku memandang Mas Anto.
Beliau hanya tersenyum pahit.
“Nggak apa-apa, Mas.”
“Nanti saya jelasin ke kantor.”
Aku terdiam.
Aku mulai mengerti.
Di pasar…
tidak semua orang berlaku adil.
Ada yang memanfaatkan status.
Ada yang memanfaatkan kelembutan orang lain.
Dan sering kali…
orang yang paling lemah menjadi pihak yang pertama disalahkan.
Hari itu aku belajar bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal mengejar target.
Tetapi juga berani berdiri membela orang yang diperlakukan tidak adil.
Pukul setengah dua siang.
Seluruh barang telah selesai diturunkan.
Mas Parjo berkata,
“Mas…”
“Istirahat dulu.”
Aku mengangguk.
“Kita makan di mana?”
Beliau tersenyum.
“Di rumah.”
Aku membayangkan sebuah rumah kontrakan sederhana.
Mungkin dua kamar.
Sedikit halaman.
Atau setidaknya ruang tamu kecil.
Namun ketika mobil berhenti di sebuah gang sempit…
bayanganku langsung runtuh.
Di depanku berdiri deretan rumah petak.
Masing-masing hanya selebar beberapa langkah kaki.
Tanpa halaman.
Tanpa pagar.
Tanpa kemewahan.
Mas Parjo membuka pintu salah satunya.
“Inilah rumah kami.”
Aku melangkah masuk.
Ruangan itu hanya sekitar delapan belas meter persegi.
Di sudut ruangan tergelar enam tikar yang dilipat rapi.
Pakaian digantung di dinding.
Kompor minyak berdiri di dekat pintu.
Tidak ada kamar mandi.
Aku menoleh.
“Mas…”
“Berenam tinggal di sini?”
Beliau tersenyum seolah pertanyaanku sangat biasa.
“Iya.”
“Alhamdulillah.”
“Kami semua saudara sekampung.”
“Kalau sendiri-sendiri…”
“…nggak sanggup bayar.”
Aku hanya mengangguk.
Aku menuju keran air di samping kamar mandi umum.
Kubasuh wajahku perlahan.
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh bercampur dengan air wudu.
Bukan karena kasihan.
Tetapi karena malu.
Aku baru menyadari…
selama ini aku terlalu sering mengeluh.
Padahal ada begitu banyak orang yang hidup jauh lebih sederhana.
Namun tetap mampu tersenyum.
Saat kembali ke dalam kontrakan…
pandanganku tertuju pada sebuah kaligrafi tua yang mulai menguning dimakan usia.
Tulisan Arabnya sederhana.
Namun sangat indah.
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Aku memandang tulisan itu cukup lama.
Di ruangan kecil itu…
aku merasa sedang berada di tempat yang sangat kaya.
Bukan kaya harta.
Tetapi kaya syukur.
Dan mungkin…
itulah kekayaan yang paling sulit dimiliki manusia.
—0—
PENULIS

Doddy Ariesta Afriyana, SE, C.HRM, C.Trainer, C.SLII, C.SoT, C.NLP, C.PI Analyst, C.P3H
Doddy is a sales practitioner, human resources practitioner, and businessman, as well as a training master for Salesmanship, Sales management, and Sales Leadership training at Imtiyaz Learning & Consulting, who has 6 certifications ranging from sales, soft skills, leadership, training, personality profiling, and human resources from reputable national and international institutions.
Doddy has worked in a variety of industries for over 22 years, including the restaurant industry, software and application development, FMCG, Oil and Gas, Pharmacy, Direct Selling, MLM, Automotive, SME, and Start-Up. Extensive and in-depth experience in local, national, and multinational corporations within the scope of his position roles on a local, national, and global scale.
He began his career as a marketing executive at a Software & Application Development company, as well as a Head of Professor Assistant Corps at FEB UI, after graduating from the Faculty of Economics & Business University of Indonesia (FEB UI). His career progressed until he was trusted to become Head of Area, Assistant Manager, Manager, and General Manager in various national and multinational companies. His previous position before deciding to start a learning consulting firm was General Manager Learning & Development at Renault Indonesia and GM HRD & Business Development at start up Blimobil Indonesia.
–0–
Smart Sales Manager 4.0
Judul Sales Manager Training
Smart Sales Manager 4.0
Deskripsi
Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | Bagaimana memahami territory management, breakdown target, mendesain KPI, mendesain insentif, dan mengevaluasi kinerja tim sales, serta memahami 3 peran sales manager secara maksimal yaitu mengelola tugas dengan baik, mengelola waktu, dan mengelola orang lain. Dan juga tanpa melupakan bagaimana kita memanfaatkan artificial intelligence untuk memaksimalkan peran manajemen kita.
Manfaat
Membekali para Sales Manager dengan skill yang tepat dalam mengelola diri dan tim penjualannya, termasuk di dalamnya skill territory management, break down sales target, menyelaraskan pencapaian insentif untuk mencapai target pribadi tim penjualan. Memanfaatkan media sosial, digital, dan artificial intelligence untuk mendapatkan database dan prospek.
Keunggulan
Para Sales Manager mudah memahami konten dari materi training ini, karena mudah diterapkan, inspiratif, juga membekali skill teknis mereka sebagai sales manager. Disempurnakan dengan skill media sosial, digital, dan artificial intelligence yang sangat suportif untuk pencapaian penjualan.
Skill
Smart time management, Smart task management, Smart leader, sales territory management, Smart problem solver and decision maker, smart prospecting, smart database gathering.
Target Peserta Sales Manager Training
Sales Leader, Sales Manager, Sales Director, Vice President Sales Marketing, General Manager Sales, C-Level
Materi Training
- Time Management
- Task Management
- Territory Manager
- Problem Solving
- Decision making
- Breakdown Sales Target
- Prospect Database Gathering
- Smart Coaching for high performance.
Durasi
2 Hari
Metode Sales Training
- Participative Learning;
- Group Discussion;
- Interactive Presentation;
- Case Study;
- Impactful Role Play;
- Simulation; Group Presentation.

Hubungi kami untuk mendapatkan penawaran dari program unggulan Imtiyaz Learnings. SALES TRAINING 4.0 adalah program unggulan kami untuk membantu para pimpinan sales mencapai target penjualan perusahaan. Metode pembelajaran yang dijalankan merupakan kolabolasi dari pengalaman tim trainer di dunia sales dengan memanfaatkan kemajuan teknologi terkini.
Address:
H. Nawi Raya No. 191, Gandaria Utara
Kota Jakarta Selatan 12140, Jakarta
Lihat Google Maps –>> klik disini
Phone / Whatsapp :
0852 8350 0976 (DINI) –>> klik disini
0812 9581 2288 (DEWA) –>> klik disini
Email:
dini.mufidah@imtiyazlearnings.com
dewa@imtiyazlearnings.com
Socmed:
LinkedIn : imtiyazlearningconsulting –>> klik disini
Instagram : imtiyazlearnings –>> klik disini
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training

