(Sales Training) The Salesman’s Diary #008 Kalau Semua Prioritas, Tak Ada yang Prioritas

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | The Salesman’s Diary : Catatan Perjalanan Seorang Salesman. Diary #008 Kalau Semua Prioritas, Tak Ada yang Prioritas.

Chapter 3

The Salesman's Diary ~ Sales Training
The Salesman’s Diary ~ Sales Training

Hari Kedua di Head Office

Workshop Harvard Case Study

Pareto : Time, Task & Priority Management

08.00 WIB

Begitu memasuki ruang kelas, suasananya terasa berbeda.

Tidak ada lagi susunan meja menghadap trainer.

Seluruh meja disusun membentuk enam round table.

Di tengah setiap meja terdapat papan kecil bertuliskan nama kelompok.

Tidak ada modul.

Tidak ada slide.

Tidak ada handout.

Hanya sebuah amplop cokelat besar.

Di depan kelas berdiri Pak Doddy.

Hari itu beliau mengenakan kemeja putih lengan panjang.

Tangannya hanya memegang stopwatch.

Bukan laptop.

Bukan pointer.

Beliau tersenyum.

“Hari ini…”

“…tidak ada kuliah.”

Kami saling berpandangan.

Pak Doddy kembali berkata.

“Hari ini…”

“…yang berpikir bukan saya.”

“Yang berpikir adalah kalian.”

Beliau mengangkat enam buah amplop.

“Silakan satu orang mengambil.”

Aku mendapat amplop nomor tiga.

Di bagian depannya hanya tertulis satu kalimat.

CONFIDENTIAL BUSINESS CASE

Jantungku mulai berdegup.

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

THE HARVARD MOMENT

Pak Doddy mulai berjalan perlahan.

“Hari ini…”

“…anggap kalian bukan Management Trainee.”

Beliau berhenti.

“Kalian adalah Area Manager.”

Ruangan langsung sunyi.

“Kalian mempunyai wilayah.”

“Kalian mempunyai target.”

“Kalian mempunyai salesman.”

“Kalian mempunyai distributor.”

“Kalian mempunyai kompetitor.”

“Kalian hanya mempunyai…”

Beliau melihat jam tangannya.

“…24 jam.”

Beliau menatap seluruh peserta.

“Sama seperti semua manusia.”

Beliau melanjutkan.

“Kalau kalian gagal mengatur waktu…”

“…target tidak akan pernah mengejar kalian.”

“Tetapi masalah…”

“…akan.”

Aku langsung menulis kalimat itu.

Amplop Dibuka

Di dalam amplop terdapat sekitar lima belas lembar kertas.

Lengkap.

Ada peta wilayah.

Ada data outlet.

Ada KPI salesman.

Ada omzet.

Ada histori penjualan.

Ada complaint.

Ada jadwal promosi.

Ada jadwal kunjungan.

Ada laporan piutang.

Ada surat dari General Manager.

Ada email dari distributor.

Ada memo HR.

Bahkan ada catatan tulisan tangan.

Persis seperti dokumen Area Manager sungguhan.

Pak Doddy berkata,

“Hari ini…”

“…tidak ada jawaban benar.”

“Yang ada…”

“…adalah keputusan.”

Aku membuka halaman pertama.

Judulnya membuatku langsung menelan ludah.

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

CASE 01

Area Timur Jayakarta

Area Manager :
Budi Santoso

Jumlah Salesman :
12 orang

Jumlah Outlet :
2.485

Target Bulanan :
Rp4,8 Miliar

Achievement :
89%

Remaining Working Day :
7 Hari

Di halaman berikutnya tertulis daftar masalah.

Senin

Salesman terbaik kecelakaan motor.

Selasa

Distributor kekurangan stok Milko 400 gram.

Rabu

Modern Trade meminta meeting negosiasi.

Kamis

Kompetitor memberi bonus 1 karton setiap pembelian 10 karton.

Jumat

Piutang 350 juta jatuh tempo.

Sabtu

General Manager datang visit.

Minggu

Training salesman.

Aku membaca cepat.

Belum selesai.

Masih ada dua puluh masalah lainnya.

Aku spontan berkata,

“Ini mana mungkin selesai…”

Sashi tertawa.

“Makanya ini namanya case.”

Aturan Main

Pak Doddy menjelaskan.

“Kalian hanya punya…”

“…10 kartu prioritas.”

Beliau membagikan sepuluh kartu kecil berwarna merah.

“Setiap kartu…”

“…hanya boleh dipakai untuk SATU pekerjaan.”

“Kalau kartu habis…”

“…berarti pekerjaan itu tidak kalian lakukan.”

Ruangan langsung gaduh.

“Wah…”

“Lho…”

“Kok begitu?”

Pak Doddy tersenyum.

“Itulah hidup.”

“Leadership…”

“…bukan kemampuan mengerjakan semuanya.”

“Leadership adalah kemampuan memutuskan…”

“…apa yang TIDAK dikerjakan.”

Ruangan mendadak hening.

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

Diskusi Kelompok

Kelompok kami langsung mulai bekerja.

Sashi mengambil spidol.

Yaya membuka data penjualan.

Didi membaca laporan salesman.

Aku mengambil peta wilayah.

Kami tidak berbicara selama beberapa menit.

Masing-masing tenggelam dalam data.

Lalu aku berkata,

“Aku rasa…”

“…kita salah.”

Semuanya menoleh.

“Kita membaca masalah.”

“Padahal…”

“…kita belum membaca bisnisnya.”

Sashi mengangguk.

“Maksudmu?”

Aku menunjuk angka.

“Omzet 4,8 miliar.”

“Kalau target tinggal tujuh hari…”

“…berarti fokus utama bukan menyelesaikan semua masalah.”

“Tapi menyelamatkan target.”

Yaya mulai menghitung.

“Kalau begitu…”

“…piutang mungkin lebih penting.”

Didi menggeleng.

“Belum tentu.”

“Kalau stok kosong…”

“…piutang lunas juga omzet tetap hilang.”

Diskusi mulai memanas.

Muncul Konflik

Di meja sebelah…

suara Wawan mulai terdengar keras.

“Kalian terlalu banyak mikirin distributor!”

Kristin langsung menyanggah.

“Justru distributor sumber masalah!”

Dodo menimpali.

“Kalau salesman terbaik kecelakaan…”

“…target pasti turun.”

Hawa berkata,

“Belum tentu.”

“Masih ada sebelas salesman.”

Ruangan berubah seperti ruang sidang.

Pak Doddy hanya tersenyum.

Beliau tidak menghentikan siapa pun.

Beliau justru mencatat.

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

Twist Besar

Sepuluh menit sebelum presentasi…

Pak Doddy tiba-tiba berkata,

“STOP.”

Semua berhenti.

Beliau membagikan satu lembar tambahan.

Judulnya hanya satu kalimat.

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

Breaking News

Pabrik Europa Indonesia mengalami gangguan produksi.

Semua pengiriman Milko 400 gram ditunda dua minggu.

Ruangan langsung riuh.

“Lho?!”

“Waduh!”

“Berarti strategi kita gagal!”

Pak Doddy tersenyum.

“Selamat.”

“Kalian baru saja merasakan…”

“…realita dunia bisnis.”

Presentasi Dimulai

Setiap kelompok diberi waktu 8 menit.

Bukan untuk menjelaskan seluruh kasus.

Tetapi hanya menjawab satu pertanyaan.

Apa lima prioritas pertama yang akan kalian kerjakan dalam 72 jam ke depan?

Bukan sepuluh.

Hanya lima.

Karena menurut Pak Doddy,

“Kalau semua menjadi prioritas…”

“…berarti tidak ada yang benar-benar prioritas.”

DNA Sales Leadership

Pak Doddy kemudian menuliskan sebuah segitiga besar di papan tulis.

Di dasar segitiga beliau menulis:

Task

Di tengah:

Priority

Di puncak:

Impact

Beliau berkata,

“Orang sibuk menyelesaikan tugas.”

“Supervisor mengelola prioritas.”

“Pemimpin mengejar dampak.”

Lalu beliau menghapus kata Task dengan satu sapuan penghapus.

“Kalau kalian hanya sibuk mengerjakan daftar pekerjaan…”

“…kalian akan menjadi pekerja yang hebat.”

Beliau menghapus kata Priority.

“Kalau kalian pandai memilih prioritas…”

“…kalian akan menjadi manajer yang baik.”

Beliau kemudian mengetuk kata Impact dengan spidol.

“Tetapi kalau setiap keputusan kalian selalu diukur dari dampaknya terhadap pelanggan, tim, distributor, dan perusahaan…”

“…maka kalian sedang bertumbuh menjadi seorang pemimpin.”

Ruangan sunyi. Tidak ada yang mencatat selama beberapa detik. Semua hanya memandangi segitiga itu.

Aku merasa seperti ada sesuatu yang bergeser dalam cara berpikirku. Selama ini aku selalu bangga ketika daftar pekerjaanku selesai. Hari itu aku sadar, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak pekerjaan yang ia tuntaskan, melainkan seberapa besar dampak yang ia hasilkan.

Aku menulis pelan di buku catatanku.

“Jangan sibuk mengerjakan semua hal. Kerjakan sedikit hal yang menghasilkan dampak terbesar.”

Catatan Faris

“Hari itu aku belajar bahwa Pareto bukan sekadar rumus 80:20. Pareto adalah keberanian memilih. Di dunia sales, waktuku selalu terbatas, energiku selalu terbatas, dan sumber daya timku selalu terbatas. Seorang salesman yang hebat mungkin mampu bekerja lebih keras. Tetapi seorang sales leader harus mampu memilih pekerjaan yang memberikan dampak terbesar. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan diukur dari seberapa sibuk kita, melainkan dari seberapa besar nilai yang kita ciptakan bagi orang lain.”

 

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

Intermezzo

Pareto Sudah Ada di Rumah Kami

Setelah sesi pertama selesai, Pak Doddy memberi waktu lima belas menit untuk coffee break.

Aku membawa secangkir kopi.

Tidak ikut mengobrol.

Aku memilih berdiri di balkon lantai empat.

Dari sana jalan raya terlihat sibuk.

Mobil.

Bus kota.

Motor.

Semuanya seperti sedang berlomba dengan waktu.

Aku tersenyum sendiri.

Lucu juga.

Pagi tadi kami berdebat tentang Pareto.

Padahal…

tanpa sadar…

aku sudah mengenalnya sejak kecil.

Hanya saja…

Ibu tidak pernah menyebutnya Pareto.

Beliau menyebutnya…

“jangan buang tenaga untuk hal yang tidak penting.”

Aku teringat suatu sore.

Aku masih duduk di bangku SD.

Besok ulangan Matematika.

Aku sibuk menghafal seluruh isi buku.

Ibu memperhatikanku dari dapur.

Beliau lalu duduk di sampingku.

“Ris.”

“Iya, Bu?”

“Besok ulangan apa?”

“Matematika.”

“Semua keluar?”

Aku menggeleng.

“Nggak.”

“Hanya pecahan sama bangun datar.”

Ibu tersenyum.

“Lalu…”

“Kenapa kamu baca semuanya?”

Aku terdiam.

Beliau mengambil pensil.

Lalu memberi tanda pada beberapa halaman.

“Ini.”

“Ini.”

“Ini.”

“Cukup.”

“Tapi Bu…”

“Kalau keluar yang lain?”

Ibu mengusap kepalaku.

“Kalau yang ini sudah bisa…”

“…yang lain nanti lebih mudah.”

“Kalau semua dipelajari sekaligus…”

“…malah nggak ada yang masuk.”

Hari itu…

aku mendapat nilai sembilan puluh lima.

Baru bertahun-tahun kemudian…

aku tahu…

yang diajarkan Ibu ternyata bernama…

Pareto.

Aku kembali tersenyum.

Bukan hanya Ibu.

Ayah pun begitu.

Ketika membantu beliau memperbaiki sepeda.

Aku pernah membersihkan seluruh badan sepeda.

Sampai mengilap.

Ayah hanya tertawa.

“Yang bikin sepeda berhenti itu…”

“…bukan debunya.”

“Tapi rem.”

Beliau menyuruhku mengecek rem.

Rantai.

Ban.

Ketiganya selesai hanya lima belas menit.

Sepeda langsung kembali dipakai.

Saat itu Ayah berkata,

“Kerjakan yang paling menentukan dulu.”

Kalimat sederhana.

Namun ternyata…

itulah inti Pareto.

Aku kemudian tertawa kecil.

Bang Sofwan juga begitu.

Beliau selalu lebih dulu mengunjungi outlet Pareto.

Bang Marpaung juga.

Beliau lebih memilih menjelaskan nilai bisnis daripada sibuk berdebat soal diskon.

Mas Parjo juga.

Beliau menyusun barang berdasarkan urutan bongkar.

Bang Usman pun sama.

Beliau memilih menjual tiga SKU yang saling melengkapi daripada satu produk saja.

Aku baru sadar…

semua mentor yang kutemui…

mengajarkan Pareto.

Hanya saja…

mereka tidak pernah memakai istilah itu.

Bel berbunyi.

Coffee break selesai.

Aku meneguk kopi terakhir.

Lalu kembali masuk ke ruang kelas.

Kali ini…

aku tidak lagi melihat Pareto sebagai teori manajemen.

Melainkan…

sebagai cara hidup.

Catatan Faris

“Orang bijak tidak selalu mengenal istilahnya, tetapi mereka telah lama menjalankannya. Banyak konsep manajemen modern ternyata hidup dalam kebiasaan orang-orang sederhana. Mereka mungkin tidak pernah membaca buku Pareto, tetapi mereka tahu pekerjaan mana yang harus didahulukan, pelanggan mana yang harus dikunjungi lebih dulu, dan keputusan mana yang paling menentukan hasil. Mungkin itulah sebabnya kebijaksanaan sering lahir bukan dari ruang kuliah, melainkan dari dapur rumah, bengkel kecil, pasar tradisional, dan jalanan.”

 

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

Mata Melihat. Pemimpin Mengamati.

BAB 3

HARI KEDUA DI HEAD OFFICE

AFTERNOON SESSION

The Art of Observation

Coffee break selesai.

Peserta mulai kembali memasuki ruang training.

Suasana jauh lebih santai dibanding sesi debat sebelum makan siang.

Namun aku mengenal satu kebiasaan Pak Doddy.

Kalau beliau terlihat terlalu santai…

biasanya justru sedang menyiapkan kejutan.

Beliau berdiri di depan kelas.

Tanpa slide.

Tanpa laptop.

Tanpa spidol.

Beliau hanya membawa sebuah kardus cokelat bekas.

Beliau meletakkannya di atas meja.

Lalu berkata,

“Hari ini…”

“…kita belajar sesuatu yang paling penting bagi seorang salesman.”

Beliau berhenti beberapa detik.

“Bukan selling.”

“Bukan negosiasi.”

“Bukan closing.”

Kami saling berpandangan.

Pak Doddy tersenyum.

“Hari ini…”

“…kita belajar melihat.”

Semua peserta mulai terlihat bingung.

Melihat?

Apa maksudnya?

Pak Doddy membuka kardus itu.

Beliau mengeluarkan beberapa benda.

Sebuah gelas plastik.

Pulpen.

Kardus kecil.

Botol air mineral.

Map.

Kertas.

Kalender meja.

Dompet.

Jam tangan.

Semuanya diletakkan di atas meja secara acak.

Beliau melihat ke seluruh kelas.

“Kalian punya waktu…”

“…tiga puluh detik.”

“Lihat meja ini.”

“Jangan mencatat.”

“Jangan memotret.”

“Cukup lihat.”

Timer mulai berjalan.

Aku memperhatikan secepat mungkin.

Ada gelas.

Pulpen.

Dompet.

Jam.

Kalender.

Botol.

Map.

Selesai.

“Tiga puluh detik.”

Pak Doddy langsung menutup semua benda menggunakan kain putih.

“Baik.”

Beliau tersenyum.

“Sekarang tuliskan.”

“Ada berapa benda?”

Semua mulai menulis.

Lima.

Enam.

Delapan.

Sembilan.

Beliau kembali bertanya.

“Pulpen warnanya apa?”

Ruangan mendadak sunyi.

“Lupa…”

jawab beberapa peserta.

“Jam tangannya di tangan kanan atau kiri?”

Tidak ada yang menjawab.

“Kalender menunjuk bulan apa?”

Semakin banyak peserta saling menatap.

Pak Doddy tersenyum.

“Nah…”

“Masalah terbesar salesman bukan tidak melihat.”

“Masalahnya…”

“…melihat tanpa mengamati.”

Beliau membuka kain itu kembali.

“Kalian melihat.”

“Tetapi tidak benar-benar hadir.”

Aku langsung teringat Bang Sofwan.

Beliau bisa mengetahui stok toko hanya dari melihat rak.

Tidak perlu membuka gudang.

Tidak perlu bertanya.

Aku mulai memahami.

Yang kulihat selama seminggu kemarin ternyata bukan kebiasaan.

Melainkan sebuah keterampilan.

Pak Doddy kemudian menulis besar di papan tulis.

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

OBSERVATION ≠ LOOKING

Beliau menggambar dua lingkaran.

LOOKING

OBSERVING

“Lihat.”

“Looking itu menggunakan mata.”

“Observation menggunakan mata…”

“…pikiran…”

“…dan hati.”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan hening.

Beliau kemudian memanggilku.

“Faris.”

Aku berdiri.

“Waktu ikut Bang Sofwan…”

“Apa observasi paling menarik?”

Aku menjawab spontan.

“Routing plan.”

Beliau mengangguk.

“Lanjut.”

“Bang Sofwan tidak memilih outlet berdasarkan urutan jalan.”

“Beliau membuat rute melingkar.”

“Supaya tidak kembali ke jalan yang sama.”

Pak Doddy tersenyum.

“Itu observation.”

Beliau kembali bertanya.

“Lagi?”

“Beliau selalu melihat rak sebelum bertanya.”

“Kenapa?”

“Karena rak tidak pernah berbohong.”

Ruangan mulai ramai.

Beberapa peserta mulai mencatat.

Pak Doddy kembali menunjukku.

“Lagi.”

Aku mulai berpikir.

“Bang Usman.”

“Beliau tidak hanya melihat warung.”

“Tetapi melihat kehidupan pemilik warung.”

Pak Doddy tersenyum.

“Contohnya?”

“Jemuran jatuh.”

“Beliau memungut.”

“Anak kecil menangis.”

“Beliau memberi permen.”

“Tegal menjual pete.”

“Beliau langsung melihat peluang menjual permen.”

Pak Doddy menoleh kepada seluruh peserta.

“Itulah observation.”

“Data…”

“…tidak selalu ada di komputer.”

“Kadang…”

“…data sedang dijemur di depan rumah pelanggan.”

Seluruh kelas tertawa.

Beliau lalu memanggil Kristin.

“Kalau kamu jadi Area Manager…”

“Apa yang pertama kamu lihat ketika masuk outlet?”

Kristin menjawab cepat.

“Omzet.”

Pak Doddy menggeleng.

“Duduk.”

Beliau menunjuk Dodo.

“Kamu?”

“Display.”

“Masih kurang.”

Beliau menunjuk Hawa.

“Expired.”

“Bagus.”

“Lalu?”

Tidak ada yang menjawab.

Pak Doddy mulai menulis.

 

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

SALES OBSERVATION CHECKLIST

  1. Orangnya
  2. Tokonya
  3. Produknya
  4. Kompetitornya
  5. Lingkungannya
  6. Peluangnya

Beliau menjelaskan satu per satu.

“Orang.”

“Apa suasana hatinya?”

“Toko.”

“Ramai atau sepi?”

“Produk.”

“Availability.”

“Display.”

“Freshness.”

“Kompetitor.”

“Produk siapa yang bertambah?”

“Lingkungan.”

“Ada sekolah?”

“Pabrik?”

“Terminal?”

“Masjid?”

“Peluang.”

“Apa kebutuhan yang belum terpenuhi?”

Aku baru sadar…

Bang Sofwan.

Bang Marpaung.

Bang Usman.

Mereka bertiga sebenarnya menggunakan checklist yang sama.

Hanya saja…

semuanya sudah menjadi kebiasaan.

Harvard Mini Case

Pak Doddy kemudian mematikan lampu.

Slide pertama muncul.

Sebuah foto warung kecil.

Beliau berkata,

“Kalian punya waktu dua menit.”

“Jangan jawab dulu.”

“Cukup amati.”

Kami semua memperhatikan gambar.

Warung sederhana.

Rak.

Minuman.

Permen.

Sabun.

Rokok.

Setelah dua menit…

Pak Doddy bertanya.

“Siapa yang melihat peluang?”

Hanya beberapa tangan terangkat.

Beliau tersenyum.

“Lihat lagi.”

Barulah kami sadar.

Di depan warung terdapat sekolah dasar.

Namun tidak ada susu kotak.

Tidak ada snack anak.

Tidak ada es krim.

Di samping warung ada bengkel.

Namun tidak ada kopi sachet premium.

Tidak ada energy drink.

Tidak ada tisu.

Pak Doddy tertawa kecil.

“Peluang…”

“…sering kali bukan sesuatu yang tersembunyi.”

“Peluang hanya tidak diperhatikan.”

Aku tersenyum.

Hari itu aku mulai memahami mengapa salesman hebat selalu terlihat “beruntung.”

Bukan karena mereka lebih beruntung.

Melainkan karena mereka melihat lebih banyak daripada orang lain.

DNA Sales Leadership

“Salesman biasa melihat pelanggan. Salesman hebat melihat kehidupan pelanggan.”

Catatan Faris

Aku belajar bahwa mata hanyalah alat untuk melihat. Namun seorang pemimpin membutuhkan sesuatu yang lebih tajam daripada mata: kepekaan. Karena data bisa disalin siapa saja, tetapi kemampuan menemukan peluang di balik hal-hal sederhana hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar hadir, memperhatikan, dan peduli.

—0—

PENULIS

Doddy Ariesta

Doddy Ariesta Afriyana, SE, C.HRM, C.Trainer, C.SLII, C.SoT, C.NLP, C.PI Analyst, C.P3H

Doddy is a sales practitionerhuman resources practitioner, and businessman, as well as a training master for Salesmanship, Sales management, and Sales Leadership training at Imtiyaz Learning & Consulting, who has 6 certifications ranging from sales, soft skills, leadership, training, personality profiling, and human resources from reputable national and international institutions.

Doddy has worked in a variety of industries for over 22 years, including the restaurant industry, software and application developmentFMCGOil and GasPharmacyDirect SellingMLMAutomotiveSME, and Start-UpExtensive and in-depth experience in local, national, and multinational corporations within the scope of his position roles on a local, national, and global scale.

He began his career as a marketing executive at a Software & Application Development company, as well as a Head of Professor Assistant Corps at FEB UI, after graduating from the Faculty of Economics & Business University of Indonesia (FEB UI). His career progressed until he was trusted to become Head of AreaAssistant ManagerManager, and General Manager in various national and multinational companies. His previous position before deciding to start a learning consulting firm was General Manager Learning & Development at Renault Indonesia and GM HRD & Business Development at start up Blimobil Indonesia.

–0–

logo imtiyaz learnings

Smart Sales Manager 4.0

Judul Sales Manager Training

Smart Sales Manager 4.0

Deskripsi

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | Bagaimana memahami territory management, breakdown target, mendesain KPI, mendesain insentif, dan mengevaluasi kinerja tim sales, serta memahami 3 peran sales manager secara maksimal yaitu mengelola tugas dengan baik, mengelola waktu, dan mengelola orang lain. Dan juga tanpa melupakan bagaimana kita memanfaatkan artificial intelligence untuk memaksimalkan peran manajemen kita.

Manfaat

Membekali para Sales Manager dengan skill yang tepat dalam mengelola diri dan tim penjualannya, termasuk di dalamnya skill territory management, break down sales target, menyelaraskan pencapaian insentif untuk mencapai target pribadi tim penjualan. Memanfaatkan media sosial, digital, dan artificial intelligence untuk mendapatkan database dan prospek.

Keunggulan

Para Sales Manager mudah memahami konten dari materi training ini, karena mudah diterapkan, inspiratif, juga membekali skill teknis mereka sebagai sales manager. Disempurnakan dengan skill media sosial, digital, dan artificial intelligence yang sangat suportif untuk pencapaian penjualan.

Skill

Smart time management, Smart task management, Smart leader, sales territory management, Smart problem solver and decision maker, smart prospecting, smart database gathering.

Target Peserta Sales Manager Training 

Sales Leader, Sales Manager, Sales Director, Vice President Sales Marketing, General Manager Sales, C-Level

Materi Training
  1. Time Management
  2. Task Management
  3. Territory Manager
  4. Problem Solving
  5. Decision making
  6. Breakdown Sales Target
  7. Prospect Database Gathering
  8. Smart Coaching for high performance.
Durasi

2 Hari

Metode Sales Training 
  • Participative Learning;
  • Group Discussion;
  • Interactive Presentation;
  • Case Study;
  • Impactful Role Play;
  • Simulation; Group Presentation.

 

contact marketing imtiyaz

Hubungi kami untuk mendapatkan penawaran dari program unggulan Imtiyaz Learnings. SALES TRAINING 4.0 adalah program unggulan kami untuk membantu para pimpinan sales mencapai target penjualan perusahaan. Metode pembelajaran yang dijalankan merupakan kolabolasi dari pengalaman tim trainer di dunia sales dengan memanfaatkan kemajuan teknologi terkini.

Address:

H. Nawi Raya No. 191, Gandaria Utara
Kota Jakarta Selatan 12140, Jakarta
Lihat Google Maps  –>> klik disini

Phone / Whatsapp :

0852 8350 0976 (DINI)  –>> klik disini
0812 9581 2288 (DEWA)  –>> klik disini

Email:

dini.mufidah@imtiyazlearnings.com
dewa@imtiyazlearnings.com

Socmed:

LinkedIn : imtiyazlearningconsulting  –>> klik disini
Instagram :  imtiyazlearnings  –>> klik disini

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

 

Share to Learn

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top