(Sales Training) The Salesman’s Diary #007 Dari Pasar ke Ruang Direksi

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | The Salesman’s Diary : Catatan Perjalanan Seorang Salesman. Diary #007 THE COST OF DOING NOTHING

The Salesman's Diary ~ sales training
The Salesman’s Diary ~ sales training

BAB 3

BACK TO HEAD OFFICE

Senin pagi.

Matahari akhirnya kembali menyapa Kota Jayakarta setelah dua hari hujan mengguyur hampir tanpa jeda.

Di beberapa sudut kota, genangan air masih tersisa.

Bantaran kali dipenuhi lumpur.

Beberapa rumah bahkan masih sibuk membersihkan sisa banjir.

Namun hidup di dunia sales seolah memiliki kalendernya sendiri.

Hujan ataupun panas, target tetap berjalan.

Weekend bagi sebagian besar salesman bukan berarti libur.

Justru hari Sabtu dan Minggu sering menjadi kesempatan mencari penghasilan tambahan. Ada yang menjadi sales freelance, ada yang membantu toko keluarga, ada pula yang mengantar barang untuk distributor lain.

Mereka memahami satu hal.

Rezeki sering kali datang kepada mereka yang bersedia berjalan lebih jauh daripada orang lain.

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

 

Mobil yang kutumpangi memasuki halaman Head Office PT Europa Indonesia.

Gedung itu kembali menyambutku dengan wajahnya yang megah.

Dinding kaca memantulkan cahaya pagi.

Taman tertata rapi.

Air mancur kecil di depan lobi membuat suasana terasa tenang.

Sulit dipercaya bahwa hanya beberapa hari sebelumnya aku berkubang di lorong-lorong pasar yang becek dan sempit.

Dua dunia.

Satu perusahaan.

Tetapi ritme kehidupannya sangat berbeda.

Lift terbuka perlahan.

Begitu melangkah masuk, aroma parfum langsung menyambut.

Bvlgari Aqva.

Kenzo.

Sedikit aroma kopi dari pantry lantai tiga.

Seketika pikiranku justru melayang ke Pasar Rawabangkit.

Ke aroma kopi tubruk.

Ke bau karung beras.

Ke rempah-rempah.

Ke tanah basah setelah hujan.

Aneh.

Ternyata hidung juga bisa menyimpan kenangan.

Aroma rempah itu membuatku teringat pada Ibu.

Dapur rumah kami hanya berukuran dua kali dua meter.

Tidak pernah mewah.

Tetapi selalu hangat.

Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, aku sering membantu beliau memasak.

“Ris…”

“Tolong ambil garam…”

“Gula…”

“Terus sedikit lada sama ketumbar.”

Aku pernah protes.

“Buat apa banyak bumbu, Bu?”

“Kan sudah ada telur sama kecap.”

 

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

Ibu tersenyum sambil mengaduk nasi goreng.

“Justru bumbu yang sedikit itu yang membuat masakan hidup.”

Aku masih belum mengerti.

Beliau melanjutkan,

“Dalam hidup juga begitu.”

“Senyum…”

“Sapaan…”

“Sedikit basa-basi…”

“Itu seperti rempah.”

“Bukan untuk berpura-pura.”

“Tapi untuk menghangatkan hubungan antarmanusia.”

“Lagipula…”

“Nabi mengajarkan bahwa senyum adalah sedekah.”

Aku hanya mengangguk waktu itu.

Bertahun-tahun kemudian…

aku baru memahami maksud beliau.

Bang Sofwan…

Bang Usman…

Pak Wibisono…

Mereka semua menjual produk.

Tetapi yang lebih dahulu mereka berikan kepada pelanggan adalah kehangatan.

Mungkin…

itulah rempah dalam dunia sales.

Ruang meeting hari itu telah berubah menjadi ruang kelas.

Meja-meja disusun menjadi dua kelompok besar berbentuk bundar.

Di setiap tempat duduk telah tersedia modul pelatihan, pulpen berlogo Europa Indonesia, name tag akrilik, dan sebotol air mineral.

Pak Elvis berdiri di pintu sambil tersenyum.

Pak Syamsudin seperti biasa menyalami setiap peserta.

Sedangkan Pak Dada sudah lebih dulu melempar candaan.

“Wah…”

“Wajah-wajahnya sudah gosong semua.”

“Keliatan habis jadi sales beneran.”

Seluruh peserta tertawa.

Aku duduk satu meja bersama Sashi, Yaya, dan Didi.

Di meja seberang ada Kristin, Dodo, Hawa, dan Wawan.

Kelompok sudah ditentukan.

Tidak ada yang boleh bertukar tempat.

Aku mulai merasa…

hari ini pasti bukan kelas biasa.

Pak Elvis membuka sesi.

“Selamat datang kembali…”

“…di kawah candradimuka PT Europa Indonesia.”

Beliau memandang kami satu per satu.

“Minggu lalu kalian belajar dari lapangan.”

“Hari ini…”

“…kami ingin melihat apa yang kalian pelajari.”

Setiap peserta mendapat waktu lima belas menit.

Bukan sekadar menceritakan perjalanan.

Tetapi mempresentasikan hasil observasi.

Data.

Analisis.

Temuan.

Dan rekomendasi.

Satu per satu peserta maju.

Sebagian besar memaparkan angka.

Jumlah outlet.

Market share.

Distribusi.

Coverage area.

Produktivitas salesman.

Semuanya benar.

 

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

Namun terasa seperti membaca laporan.

Ketika giliranku tiba…

aku menarik napas panjang.

Aku tidak memulai dengan angka.

Aku memulai dengan sebuah pertanyaan.

“Menurut Bapak-Ibu…”

“Siapa guru terbaik selama saya berada di distributor?”

Ruangan hening.

Aku melanjutkan.

“Bukan Area Manager.”

“Bukan Sales Manager.”

“Bukan pula Supervisor.”

“Guru terbaik saya minggu lalu adalah…”

“…Bang Sofwan.”

“…Mas Parjo.”

“…Bang Usman.”

“…dan para pedagang kecil di Pasar Rawabangkit.”

Barulah setelah itu…

angka-angka mulai kutampilkan.

Tetapi setiap angka selalu memiliki wajah.

Di balik peningkatan outlet ada Bang Usman.

Di balik collection ada Bang Sofwan.

Di balik delivery ada Mas Parjo.

Di balik negosiasi ada Pak Tommy.

Angka-angka yang semula dingin…

perlahan menjadi hidup.

Ruangan terasa sunyi.

Tidak ada yang memainkan pulpen.

Tidak ada yang membuka modul.

Semua mendengarkan.

Ketika presentasi selesai…

Pak Jogani tersenyum lebar.

Pak Elvis berdiri sambil bertepuk tangan.

Pak Syamsudin mengangkat dua jempol.

Sedangkan Pak Dada tertawa.

“Amazing…”

“Life Changing Experience.”

Aku mengucapkan terima kasih.

Namun dalam hati…

aku tahu.

Yang bertepuk tangan sebenarnya bukan untukku.

Melainkan untuk orang-orang kecil yang telah mengajariku begitu banyak hal.

Setelah makan siang dan salat Zuhur…

suasana kelas berubah total.

Lampu sedikit diredupkan.

Kursi disusun saling berhadapan.

Pak Hasan dari Imtiyaz Learnings membuka sesi dengan permainan singkat yang membuat seluruh peserta tertawa.

Sepuluh menit kemudian…

Pak Doddy Ariesta berdiri di depan kelas.

Beliau tidak membawa slide.

Tidak membuka laptop.

Hanya membawa spidol hitam.

Beliau menulis besar-besar di papan tulis.

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

CASE OF THE DAY

Lalu beliau menoleh kepada kami.

“Hari ini…”

“…tidak ada kuliah.”

“Hari ini…”

“…kalian akan menjadi Direksi PT Europa Indonesia.”

Ruangan langsung hening.

Aku merasakan sesuatu.

Hari ini…

bukan sekadar belajar.

Hari ini…

cara berpikir kami akan diuji.

 

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

DEBAT KELAS

Apakah Sales Motoris Layak Dipertahankan?

Pak Doddy membiarkan tulisan CASE OF THE DAY beberapa saat memenuhi papan tulis.

Beliau tidak langsung berbicara.

Beliau justru memandang kami satu per satu.

Seolah sedang membaca isi kepala setiap peserta.

Kemudian beliau mengambil spidol merah.

Di bawah tulisan itu beliau menulis sebuah kalimat.

“Apakah PT Europa Indonesia perlu mempertahankan Program Jejaring Laba-Laba?”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku melihat beberapa teman mulai membuka kalkulator.

Sebagian lagi langsung membuka modul.

Pak Doddy tersenyum tipis.

“Tenang…”

“Belum mulai.”

Beliau berjalan perlahan ke tengah ruangan.

“Lupakan dulu jabatan kalian.”

“Hari ini…”

“…anggap kalian adalah Direksi PT Europa Indonesia.”

Beliau berhenti.

“Lalu…”

“Besok pagi kalian harus memutuskan.”

“Program Sales Motoris…”

“…diteruskan…”

“…atau dihentikan.”

Aku mulai merasakan ketegangan memenuhi ruangan.

Pak Doddy kembali menulis.

DATA KASUS

Jumlah Sales Motoris Nasional : 400 orang

Target omzet harian : Rp250.000

Target Call : 40 outlet

Effective Call : 25 outlet

SKU per Effective Call : 3 SKU

Target outlet :

  • Warung kecil
  • Semi Permanent Shop
  • Gerobak
  • Rombong rokok

Gaji : setara UMR.

Disubsidi penuh oleh PT Europa Indonesia.

Program berhasil membuka 70.000 outlet baru dalam satu tahun.

Target perusahaan tahun depan:

100.000 outlet baru.

Beliau kembali menghadap kami.

“Sekarang…”

“Saya kasih tambahan data.”

Beliau menggambar angka sederhana.

Omzet bulanan rata-rata Sales Motoris

Rp250.000 × 25 hari

= Rp6.250.000

Beliau kemudian melingkari angka berikut.

Biaya tenaga kerja

±Rp1.000.000

Belum termasuk:

BBM.

Servis motor.

Ban.

Oli.

Administrasi.

Seragam.

Training.

Insentif.

Sampling.

Beliau lalu menulis besar-besar.

Cost Ratio ±16%

Kemudian beliau membalik badan.

“Target Cost Ratio Sales Promotion kita?”

Serempak kelas menjawab.

“Tiga sampai lima persen!”

“Betul.”

Beliau mengangguk.

“Berarti…”

“…program ini hampir tiga kali lebih mahal.”

Ruangan mulai gaduh.

Pak Doddy kemudian menunjuk meja kami.

“Kelompok kiri.”

“Kalian PRO.”

“Program ini harus dipertahankan.”

Beliau menunjuk meja seberang.

“Kelompok kanan.”

“KONTRA.”

“Program ini harus dihentikan.”

Beberapa teman langsung protes.

“Lho Pak…”

“Saya sebenarnya setuju ditutup.”

Pak Doddy tertawa.

“Itulah gunanya debat.”

“Orang hebat…”

“…mampu memahami sudut pandang yang berbeda.”

Aku tersenyum.

Kalimat itu langsung kutulis di pojok modulku.

Masing-masing kelompok diberi waktu lima belas menit.

Tidak ada suara.

Semua sibuk berdiskusi.

Didi mulai menuliskan data pertumbuhan outlet.

Sashi menggambar bagan distribusi.

Yaya menghitung estimasi dampak branding.

Aku masih diam.

Pikiranku justru melayang kepada Bang Usman.

Motor tuanya.

Gang-gang sempit.

Warung kecil.

Anak kecil yang diberinya permen.

Pedagang warteg yang akhirnya membeli tiga pouch permen.

Kalimatnya kembali terngiang.

“Awak senang menumbuhkan outlet baru.”

Aku mulai memahami.

Bang Usman sebenarnya tidak sedang menjual produk.

Ia sedang menanam benih.

Di meja seberang…

Kristin memimpin diskusi.

Ia memang terkenal paling kuat dalam berhitung.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit…

kertasnya sudah penuh angka.

Wawan sibuk mencari tambahan hidden cost.

Hawa membuka laporan distribusi.

Sedangkan Dodo menghitung Return on Investment.

Aku tersenyum kecil.

Ini bukan lagi kelas.

Ini sudah seperti rapat direksi.

Pak Doddy melihat jam.

“Waktu habis.”

“Kelompok PRO.”

“Lima menit.”

“Silakan.”

Didi berdiri lebih dulu.

Dengan tenang ia membuka presentasi.

“Program Jejaring Laba-Laba bukan program penjualan.”

“Ini adalah program pembangunan distribusi.”

Ia menunjukkan grafik.

“Dalam satu tahun…”

“…jumlah outlet aktif bertambah dari seratus ribu menjadi seratus tujuh puluh ribu outlet.”

Ruangan mulai memperhatikan.

Sashi melanjutkan.

“Semakin banyak outlet…”

“…semakin tinggi visibilitas merek.”

“Semakin dekat produk dengan konsumen.”

“Semakin sulit kompetitor masuk.”

Presentasi mereka rapi.

Logis.

Berbasis data.

Aku merasa cukup puas.

Kini giliran kelompok KONTRA.

Kristin berdiri.

Tanpa basa-basi.

Ia langsung menggambar tabel besar.

“Teman-teman.”

“Kita bicara bisnis.”

“Bukan idealisme.”

Kalimat pembukanya langsung membuat suasana berubah.

Ia menghitung satu per satu.

Gaji.

Motor.

Bensin.

Oli.

Servis.

Depresiasi kendaraan.

Biaya administrasi.

Training.

Seragam.

Asuransi.

Hidden cost.

Semuanya dijumlahkan.

Hasil akhirnya membuat beberapa peserta bersiul pelan.

“Kalau begini…”

“…Cost Ratio sebenarnya bukan enam belas persen.”

“Bisa mendekati dua puluh persen.”

Ruangan mulai riuh.

Wawan menambahkan.

“Target omzet tahunan juga belum tercapai.”

“Berarti investasi ini belum efisien.”

Dodo ikut memperkuat.

“Kalau uang sebesar itu dialihkan menjadi promosi nasional…”

“…hasilnya mungkin jauh lebih besar.”

Aku mulai merasakan…

debat ini tidak akan mudah.

Pak Doddy tersenyum.

“Bagus.”

“Sekarang…”

“Silakan saling menyerang.”

Ruangan mendadak hidup.

Tidak ada lagi peserta.

Yang ada hanyalah dua kubu yang sama-sama ingin mempertahankan keyakinannya.

 

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

BAB 3

Debat yang Tidak Pernah Selesai

Ruangan training mulai kembali tenang.

Pak Doddy berdiri di depan kelas.

Beliau menatap dua kelompok yang sejak tadi saling menyerang dengan data.

Kelompok Pro.

Kelompok Kontra.

Suasana tadi hampir seperti sidang direksi.

Semua merasa argumennya paling benar.

Pak Doddy tidak langsung berbicara.

Beliau justru berjalan perlahan menuju papan tulis.

Lalu menulis satu kalimat besar.

SIAPA YANG BENAR?

Beliau membalik badan.

“Menurut kalian…”

“Kelompok mana yang menang?”

Ruangan kembali gaduh.

Kelompok kami langsung menunjuk diri sendiri.

“Tentu kami, Pak.”

Kelompok sebelah tertawa.

“Wah…”

“Kalau melihat angka cost ratio…”

“Jelas kami yang benar.”

Pak Doddy mengangguk.

“Menarik.”

Beliau lalu menunjuk Pak Elvis.

“Pak Elvis…”

“Menurut Bapak siapa yang menang?”

Pak Elvis tersenyum kecil.

“Belum tentu ada yang menang.”

Kini Pak Syamsudin ikut bicara.

“Menurut saya…”

“Dua-duanya benar.”

Kelas mulai bingung.

Bagaimana mungkin…

dua kelompok yang saling bertolak belakang…

sama-sama benar?

Pak Doddy mengambil spidol.

Beliau menggambar sebuah sumbu sederhana.

Di sisi kiri beliau menulis:

Profit Today

Di sisi kanan beliau menulis:

Future Growth

Beliau menoleh.

“Masalah terbesar dalam bisnis…”

“…bukan memilih salah satunya.”

“Tetapi…”

“menentukan kapan kita memakai yang kiri…”

“…dan kapan kita berinvestasi untuk yang kanan.”

Beliau berhenti sejenak.

Lalu menunjukku.

“Faris.”

“Kalau kamu menjadi Direktur Sales…”

“Apakah program Sales Motoris akan kamu lanjutkan?”

Aku terdiam.

Pertanyaan ini berbeda.

Ini bukan lagi soal presentasi.

Ini bukan lagi soal teori.

Ini keputusan bisnis.

Aku menarik napas.

“Pak…”

“Saya akan tetap menjalankannya.”

Kelompok sebelah langsung tersenyum.

Seolah mendapat celah menyerang.

Ruangan mendadak hening.

Pak Doddy menoleh ke arahku.

“Silakan, Faris.”

Aku berdiri perlahan.

Tidak langsung menjawab.

Aku justru berjalan mendekati papan tulis.

Mengambil spidol.

Lalu menggambar sebuah titik kecil.

Di sampingnya kutulis satu kata.

WARUNG

Aku menoleh ke seluruh peserta.

“Teman-teman…”

“Siapa yang tahu sejarah Nusamart?”

Beberapa peserta saling berpandangan.

Tak ada yang menjawab.

Aku melanjutkan.

“Dua belas tahun lalu…”

“…Nusamart bukan siapa-siapa.”

“Hanya sebuah warung kelontong kecil milik Pak Muhammad Nasir.”

“Ukurannya bahkan tidak lebih besar daripada warung yang setiap hari dikunjungi Bang Usman.”

Aku menggambar sebuah kotak kecil.

Lalu sebuah panah.

Warung → Toko Kelontong.

“Pak Nasir tidak langsung membangun supermarket.”

“Beliau membangun pelanggan.”

“Membangun kepercayaan.”

“Membangun arus kas.”

“Membangun kebiasaan belanja.”

Aku membuat panah berikutnya.

Toko Kelontong → Mini Market.

“Lalu setelah pulang belajar dari Jepang…”

“…beliau mengubah konsep tokonya.”

“Dari toko biasa…”

“…menjadi swalayan.”

Aku menggambar panah lagi.

Mini Market → Nusamart.

“Satu toko.”

“Tiga toko.”

“Sepuluh toko.”

“Seratus toko.”

“Hari ini…”

“…lebih dari tiga ribu outlet.”

Aku berhenti.

Menatap seluruh kelas.

“Pertanyaan saya sederhana.”

“Kalau dulu ada salesman yang menganggap warung Pak Nasir terlalu kecil…”

“…dan tidak layak dikunjungi…”

“Apakah hari ini Nusamart akan menjadi pelanggan terbesar di Indonesia?”

Ruangan mulai sunyi.

Beberapa peserta mulai mengangguk.

Aku melanjutkan.

“Yang kita lihat hari ini…”

“…hanyalah omzet dua ratus lima puluh ribu rupiah.”

“Yang tidak kita lihat…”

“…adalah potensi pelanggan sepuluh tahun ke depan.”

Aku menuliskan dua kalimat besar di papan.

Current Revenue

Future Customer Equity

“Laporan keuangan…”

“…hanya mencatat penjualan hari ini.”

“Tetapi strategi…”

“…harus menghitung nilai pelanggan di masa depan.”

Pak Elvis mulai tersenyum.

Pak Syamsudin berhenti menulis.

Pak Dada melipat tangan sambil memperhatikanku.

Aku melanjutkan.

“Kalau tujuan Sales Motoris hanya mengejar omzet…”

“…saya setuju.”

“Program ini terlihat mahal.”

“Tetapi menurut saya…”

“tujuan utamanya bukan omzet.”

Aku menggambar jaring laba-laba besar.

Di setiap ujung kutulis:

Warung

Rombong

Kios

Pedagang Sayur

Pedagang Gorengan

Pedagang Minuman

“Kita sedang membangun jaringan distribusi.”

“Semakin rapat jaringnya…”

“…semakin sulit kompetitor masuk.”

Aku menoleh ke arah kelompok sebelah.

“Teman-teman tadi berkali-kali menyebut cost ratio.”

“Ayo kita bicara cost ratio.”

Aku menulis angka.

UMR = Rp1.000.000

Target Sales = Rp6.250.000/bulan

Cost Ratio = 16%

“Angka ini benar.”

“Aku setuju.”

“Tetapi ada satu biaya yang belum dihitung.”

Aku berhenti.

Lalu menatap seluruh ruangan.

Cost of Doing Nothing.

 

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

Ruangan mendadak semakin sunyi.

Aku melanjutkan.

“Berapa biaya kalau kita tidak masuk ke warung-warung itu?”

“Berapa biaya kalau sepuluh tahun lagi seluruh outlet kecil itu sudah lebih dulu dikuasai kompetitor?”

“Berapa biaya ketika mereka sudah terbiasa menjual merek lain?”

“Berapa biaya untuk merebut kembali pelanggan yang sudah loyal?”

Aku menggeleng pelan.

“Itu jauh lebih mahal.”

Kristin mengangkat tangan.

“Faris.”

“Tapi tetap saja…”

“Belum tentu semua warung itu berkembang.”

Aku mengangguk.

“Betul.”

“Tidak semuanya akan menjadi Nusamart.”

“Lima puluh persen mungkin tutup.”

“Tiga puluh persen mungkin tetap kecil.”

“Tetapi…”

“Aku hanya butuh satu pertanyaan.”

Aku tersenyum.

“Bagaimana kalau satu persen saja berhasil berkembang?”

“Satu persen dari seratus ribu outlet…”

“…adalah seribu outlet.”

“Kalau seribu outlet itu suatu hari berkembang menjadi minimarket lokal…”

“…siapa yang pertama kali mereka ingat?”

“Bukan kompetitor.”

“Tetapi salesman yang dulu datang ketika mereka masih berjualan di bawah terpal.”

Ruangan kembali hening.

Aku menoleh kepada seluruh peserta.

“Sales Motoris bukan sedang menjual produk.”

“Mereka sedang menanam hubungan.”

“Dan hubungan…”

“selalu membutuhkan waktu untuk bertumbuh.”

Aku menarik napas.

“Laporan keuangan menghitung Return on Investment.”

“Tetapi distribusi nasional…”

“…juga harus menghitung Return on Relationship.”

Pak Doddy tersenyum lebar.

Beliau menutup spidol yang sejak tadi diputar-putar di tangannya.

“Ladies and Gentlemen…”

“Inilah perbedaan…”

“…antara melihat biaya…”

“…dan melihat investasi.”

Pak Elvis mengangguk pelan.

Sambil menulis sesuatu di lembar asesmennya.

Strategic Thinking.

 

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings

Pak Doddy tersenyum.

Beliau menoleh kepada kelompok kontra.

“Silakan.”

Kristin berdiri.

“Faris.”

“Aku setuju soal investasi.”

“Tapi…”

“Bagaimana kalau perusahaan bangkrut sebelum pohonnya berbuah?”

Aku tersenyum.

Pertanyaan itu bagus.

“Bisa saja.”

“Karena itu…”

“Investasi tidak boleh membunuh cashflow.”

“Yang dibutuhkan bukan sekadar keberanian.”

“Tetapi kemampuan menyeimbangkan.”

Pak Doddy langsung memotong.

“Nah…”

“Itu.”

Beliau menepuk meja.

“Kalimat itu…”

“…catat semuanya.”

Beliau menulis besar-besar.

STRATEGY IS THE ART OF BALANCING TODAY AND TOMORROW

Beliau kembali berjalan.

“Teman-teman…”

“Banyak perusahaan mati…”

“…bukan karena tidak punya laba.”

“Tetapi…”

“karena tidak pernah menanam.”

Beliau berhenti.

“Banyak juga perusahaan mati…”

“…karena terlalu banyak menanam.”

“…tetapi lupa makan.”

Seluruh kelas tertawa.

Pak Doddy melanjutkan.

“Sales Motoris…”

“…adalah contoh nyata bahwa keputusan bisnis…”

“…tidak pernah hitam putih.”

“Kadang benar.”

“Kadang salah.”

“Kadang…”

“tergantung kapan kita melihatnya.”

Beliau lalu menunjuk Pak Jogani.

“Pak.”

“Closing statement?”

Pak Jogani berdiri perlahan.

Beliau tidak membawa laptop.

Tidak membawa modul.

Hanya secangkir kopi yang sejak tadi mulai dingin.

Beliau berdiri di tengah kelas.

“Lima belas tahun lagi…”

“Sebagian dari kalian…”

“…akan menjadi Sales Director.”

“Commercial Director.”

“Mungkin CEO.”

Beliau memandang kami satu per satu.

“Hari itu…”

“orang tidak lagi bertanya…”

“‘Diskonnya berapa?'”

“‘Cost ratio berapa?'”

“‘Market share berapa?'”

Yang akan ditanyakan adalah…

‘Apakah keputusan yang kamu ambil hari ini masih membuat perusahaan hidup sepuluh tahun lagi?’

Ruangan benar-benar sunyi.

Beliau melanjutkan.

“Jangan pernah menjadi manajer yang hanya pandai membaca laporan.”

“Jadilah pemimpin…”

“…yang mampu melihat masa depan.”

Beliau berhenti cukup lama.

Kemudian tersenyum.

“Itulah sebabnya…”

“…minggu lalu saya tidak mengirim kalian ke hotel.”

“Saya kirim kalian…”

“…ke pasar.”

Catatan Mentor Doddy Ariesta :

“Keputusan bisnis terbaik bukan yang paling murah, melainkan yang tetap memberi kehidupan bagi perusahaan, pelanggan, dan manusia yang akan tumbuh bersamanya sepuluh tahun mendatang.”

Catatan Salesman’s Diary :

“Laporan mengajarkan apa yang sedang terjadi. Lapangan mengajarkan mengapa hal itu terjadi. Seorang pemimpin harus mampu membaca keduanya.”

 

—0—

PENULIS

Doddy Ariesta

Doddy Ariesta Afriyana, SE, C.HRM, C.Trainer, C.SLII, C.SoT, C.NLP, C.PI Analyst, C.P3H

Doddy is a sales practitionerhuman resources practitioner, and businessman, as well as a training master for Salesmanship, Sales management, and Sales Leadership training at Imtiyaz Learning & Consulting, who has 6 certifications ranging from sales, soft skills, leadership, training, personality profiling, and human resources from reputable national and international institutions.

Doddy has worked in a variety of industries for over 22 years, including the restaurant industry, software and application developmentFMCGOil and GasPharmacyDirect SellingMLMAutomotiveSME, and Start-UpExtensive and in-depth experience in local, national, and multinational corporations within the scope of his position roles on a local, national, and global scale.

He began his career as a marketing executive at a Software & Application Development company, as well as a Head of Professor Assistant Corps at FEB UI, after graduating from the Faculty of Economics & Business University of Indonesia (FEB UI). His career progressed until he was trusted to become Head of AreaAssistant ManagerManager, and General Manager in various national and multinational companies. His previous position before deciding to start a learning consulting firm was General Manager Learning & Development at Renault Indonesia and GM HRD & Business Development at start up Blimobil Indonesia.

–0–

logo imtiyaz learnings

Smart Sales Manager 4.0

Judul Sales Manager Training

Smart Sales Manager 4.0

Deskripsi

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | Bagaimana memahami territory management, breakdown target, mendesain KPI, mendesain insentif, dan mengevaluasi kinerja tim sales, serta memahami 3 peran sales manager secara maksimal yaitu mengelola tugas dengan baik, mengelola waktu, dan mengelola orang lain. Dan juga tanpa melupakan bagaimana kita memanfaatkan artificial intelligence untuk memaksimalkan peran manajemen kita.

Manfaat

Membekali para Sales Manager dengan skill yang tepat dalam mengelola diri dan tim penjualannya, termasuk di dalamnya skill territory management, break down sales target, menyelaraskan pencapaian insentif untuk mencapai target pribadi tim penjualan. Memanfaatkan media sosial, digital, dan artificial intelligence untuk mendapatkan database dan prospek.

Keunggulan

Para Sales Manager mudah memahami konten dari materi training ini, karena mudah diterapkan, inspiratif, juga membekali skill teknis mereka sebagai sales manager. Disempurnakan dengan skill media sosial, digital, dan artificial intelligence yang sangat suportif untuk pencapaian penjualan.

Skill

Smart time management, Smart task management, Smart leader, sales territory management, Smart problem solver and decision maker, smart prospecting, smart database gathering.

Target Peserta Sales Manager Training 

Sales Leader, Sales Manager, Sales Director, Vice President Sales Marketing, General Manager Sales, C-Level

Materi Training
  1. Time Management
  2. Task Management
  3. Territory Manager
  4. Problem Solving
  5. Decision making
  6. Breakdown Sales Target
  7. Prospect Database Gathering
  8. Smart Coaching for high performance.
Durasi

2 Hari

Metode Sales Training 
  • Participative Learning;
  • Group Discussion;
  • Interactive Presentation;
  • Case Study;
  • Impactful Role Play;
  • Simulation; Group Presentation.

 

contact marketing imtiyaz

Hubungi kami untuk mendapatkan penawaran dari program unggulan Imtiyaz Learnings. SALES TRAINING 4.0 adalah program unggulan kami untuk membantu para pimpinan sales mencapai target penjualan perusahaan. Metode pembelajaran yang dijalankan merupakan kolabolasi dari pengalaman tim trainer di dunia sales dengan memanfaatkan kemajuan teknologi terkini.

Address:

H. Nawi Raya No. 191, Gandaria Utara
Kota Jakarta Selatan 12140, Jakarta
Lihat Google Maps  –>> klik disini

Phone / Whatsapp :

0852 8350 0976 (DINI)  –>> klik disini
0812 9581 2288 (DEWA)  –>> klik disini

Email:

dini.mufidah@imtiyazlearnings.com
dewa@imtiyazlearnings.com

Socmed:

LinkedIn : imtiyazlearningconsulting  –>> klik disini
Instagram :  imtiyazlearnings  –>> klik disini

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

 

Share to Learn

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top