(Sales Training) The Salesman’s Diary : Belajar dari Manusia, Manfaat untuk Sesama #005

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | The Salesman’s Diary : Catatan Perjalanan Seorang Salesman.

Bab 2
MEMASUKI DUNIA YANG SESUNGGUHNYA
The Salesman's Diary ~ Sales Training
The Salesman’s Diary ~ Sales Training

Mutiara dari Tukang Semir Sepatu

Pukul delapan pagi, ruang briefing distributor kembali dipenuhi suara obrolan para salesman yang baru datang dari berbagai penjuru Kota Jayakarta.

Sebagian masih menggenggam gelas kopi.

Sebagian lain sibuk membuka map berisi faktur.

Di sudut ruangan, Pak Wibisono sudah berdiri di depan peta wilayah seperti biasanya.

Beliau menoleh ketika aku masuk.

Senyumnya langsung mengembang.

“Ris.”

Aku menghampiri beliau.

“Siap, Pak.”

Pak Wibi menepuk bahuku pelan.

“Kerja bagus kemarin.”

Aku sedikit bingung.

“Yang mana, Pak?”

“Dragon Supermarket.”

Beliau tersenyum.

“Kamu tahu nggak?”

“Marpaung itu salah satu salesman Modern Trade terbaik yang kita punya.”

“Sudah bertahun-tahun pegang account besar.”

“Tapi kemarin…”

“…dia sendiri bilang baru kali itu melihat negosiasi dibalik tanpa harus menambah diskon.”

Aku tersenyum kecil.

“Ah… saya hanya menyampaikan apa yang saya pelajari saja, Pak.”

Pak Wibi menggeleng.

“Bukan.”

“Kamu melakukan lebih dari itu.”

Beliau memandangku cukup lama.

“Sales skill kamu…”

“…sudah mendekati level Junior Area Manager.”

Aku spontan tertawa kecil.

“Wah… jangan begitu, Pak.”

“Saya masih MT.”

Beliau ikut tertawa.

“Justru itu.”

“Lalu…”

Beliau menyilangkan tangan.

“Belajar dari mana?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam beberapa detik.

Pikiranku tiba-tiba melayang jauh.

Jauh sebelum PT Europa Indonesia.

Jauh sebelum Universitas Nusantara.

Bahkan…

jauh sebelum aku mengenal istilah salesmanship.

Aku tersenyum.

“Pak…”

“Saya boleh cerita?”

Pak Wibi mengangguk.

“Tentu.”

Aku menarik napas panjang.

“Dulu…”

“waktu SMP…”

“saya pernah jadi tukang semir sepatu.”

Beberapa salesman yang berada di dekat kami langsung menoleh.

Mungkin mereka tidak menyangka.

Aku melanjutkan.

“Modal saya cuma nekat.”

“Saya bahkan nggak tahu cara menyemir sepatu yang benar.”

Pak Wibi tertawa.

“Lalu belajar dari siapa?”

Aku ikut tersenyum.

“Dari film.”

“Film jadul.”

“Rano Karno.”

“Saya lihat tokohnya menyemir sepatu.”

“Ya saya tiru saja.”

Semua orang ikut tertawa.

“Serius?”

“Iya, Pak.”

“Pokoknya saya lihat…”

“…oles…”

“…gosok…”

“…selesai.”

Lucunya…

selama hampir seminggu…

tidak ada satu pun pelanggan yang protes.

Aku merasa sudah menjadi tukang semir profesional.

Padahal…

aku bahkan tidak tahu bahwa teknikku salah total.

Suatu siang…

datang seorang pelanggan.

Seorang penjaga toko jam.

Orang Tionghoa.

Usianya sekitar empat puluh tahunan.

Aku masih ingat wajahnya.

Sorot matanya tajam.

Tetapi senyumnya hangat.

Beliau duduk.

“Mau semir, Koh?”

Beliau mengangguk.

Aku langsung bekerja seperti biasanya.

Beberapa menit kemudian selesai.

Aku tersenyum bangga.

“Sudah, Koh.”

“200 perak.”

Beliau melihat sepatunya cukup lama.

Lalu menggeleng pelan.

“Salah.”

Aku kaget.

“Salah?”

“Lhu…”

“…orang nggak tahu cara nyemir.”

Aku langsung pucat.

Kupikir beliau akan marah.

Atau memintaku mengembalikan uang.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Beliau tersenyum.

“Sini.”

“Owe ajarin.”

Beliau mengambil kain lap dari tanganku.

Lalu mulai memperagakan satu per satu.

“Pertama…”

“Debunya dibersihkan dulu.”

Beliau membasahi kain sedikit.

Mengusap seluruh permukaan sepatu dengan sangat teliti.

“Kalau debunya masih ada…”

“…semir nggak akan masuk.”

Aku memperhatikan tanpa berkedip.

“Kedua…”

“dijemur sebentar.”

“Biar kadar airnya hilang.”

Aku mengangguk.

Beliau melanjutkan.

“Ketiga…”

“Semirnya tipis saja.”

“Yang penting rata.”

“Bukan tebal.”

“Lhu jangan pikir makin banyak semir makin bagus.”

Aku tersenyum malu.

Selama ini justru itu yang kulakukan.

Beliau belum selesai.

“Keempat…”

“Diamkan sebentar.”

“Kasih waktu kulit sepatu menyerap.”

“Bisnis juga begitu.”

“Jangan semuanya serba buru-buru.”

Aku masih belum memahami maksud kalimat itu.

Beliau kembali menggosok sepatu menggunakan kain kering.

Gerakannya cepat.

Berulang.

Beberapa detik kemudian…

sepatu hitam kusam itu berubah mengilap seperti baru.

Aku sampai terpana.

Beliau memakai kembali sepatunya.

Berdiri.

Melangkah beberapa langkah.

Lalu tersenyum puas.

Aku ikut senang.

Karena baru pertama kali melihat hasil semir yang benar.

Aku pun berkata pelan.

“200 perak ya, Koh.”

Beliau menatapku sambil tersenyum.

“Lhu…”

“…owe sudah kasih ilmu.”

“Masih minta duit?”

Aku langsung tertawa malu.

“Iya juga ya, Koh.”

“Nggak jadi.”

“Terima kasih.”

Aku sedikit membungkuk.

Beliau tiba-tiba menghampiriku.

Menepuk pelan pundakku.

Kalimat berikutnya…

tidak pernah hilang dari ingatanku sampai hari ini.

“Lhu inget ya…”

“Bisnis itu bukan cuma kasih duit.”

“Ada pelayanan.”

“Ada kepercayaan.”

“Ada hubungan.”

Beliau berhenti sejenak.

Lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.

“Terlalu banyak hal…”

“…yang nggak bisa dinilai pakai uang.”

“Bahagia…”

“…juga nggak bisa dibeli pakai uang.”

Aku mengangguk pelan.

Saat itu…

aku memang belum sepenuhnya memahami maknanya.

Tetapi entah mengapa…

kalimat itu langsung masuk ke dalam hati.

Aku menatap kembali Pak Wibisono.

“Mungkin…”

“fondasi cara berpikir saya tentang bisnis…”

“…berasal dari hari itu, Pak.”

“Bukan dari ruang kuliah.”

“Bukan juga dari ruang training.”

“Tetapi dari seorang penjaga toko jam yang mengajari anak SMP cara menyemir sepatu.”

Pak Wibisono terdiam beberapa detik.

Beliau lalu tersenyum lebar.

Mengangkat ibu jarinya.

“Mantap.”

“Keep up the good work, Boy.”

Aku tersenyum.

Kalimat itu sederhana.

Namun bagiku…

lebih berharga daripada pujian apa pun.

Karena hari itu aku semakin yakin…

bahwa guru terbaik dalam hidup…

tidak selalu datang dengan jas mahal.

Kadang…

ia hanya mengenakan celemek tua…

dan berdiri di balik etalase toko kecil di sudut pasar.

📖 Catatan Salesman’s Diary

“Harga dibayar dengan uang. Nilai dibayar dengan kepercayaan. Itulah sebabnya pelanggan bisa melupakan harga, tetapi tidak pernah melupakan pelayanan.”

 

Catatan #014

Menjual dengan Hati

Pagi itu langit Kota Jayakarta tampak sedikit mendung.

Udara masih terasa sejuk ketika aku menyalakan motor.

Di depan gudang distributor, Bang Usman sudah lebih dulu bersiap.

Motor bebek tuanya tampak penuh muatan.

Di sisi kanan tergantung tas canvassing.

Di bagian belakang terikat dua keranjang berisi berbagai produk PT Europa Indonesia.

Susu.

Kopi.

Minuman cokelat.

Permen.

Cokelat batang.

Melihatku hendak naik ke jok belakang motornya, beliau langsung menggeleng sambil tertawa.

“Mas Faris…”

“Pakai motor sendiri saja ya.”

Aku berhenti.

“Kenapa, Bang?”

Beliau menepuk-nepuk tas canvassing yang menggantung di motornya.

“Kalau awak bonceng lho…”

“…barang awak mau taruh di mana?”

Aku ikut tertawa.

“Iya juga ya.”

“Siap, Bang.”

“Saya ikuti abang dari belakang.”

Beliau mengangguk.

“Kalau awak belok…”

“…jangan sampai hilang.”

Beliau tersenyum lebar.

“Kadang jalan yang awak lewati…”

“…Google Maps pun mungkin menyerah.”

Aku tertawa.

Untung saja saat itu memang belum ada Google Maps.

Perjalanan pagi itu benar-benar berbeda.

Kalau Bang Sofwan menguasai pasar…

Bang Usman menguasai gang-gang kecil Kota Jayakarta.

Motor kami masuk ke lorong sempit.

Berbelok.

Masuk lagi.

Keluar lagi.

Kadang jalannya hanya cukup untuk satu motor.

Di beberapa titik…

stang motorku hampir menyentuh kedua sisi tembok.

Aku baru sadar…

di balik gang-gang sempit itu ternyata tersembunyi ratusan warung kecil.

Warung bambu.

Warung papan.

Warung semi permanen.

Ada yang menjual mie instan.

Ada yang hanya menjual rokok.

Ada pula yang menggantung beberapa sachet kopi, susu, dan minuman cokelat di depan warungnya.

Aku bergumam dalam hati.

“Kalau tidak ikut Bang Usman…”

“Aku tidak akan pernah tahu pasar sebesar ini benar-benar ada.”

Bang Usman berhenti di sebuah warung kecil.

Beliau turun sambil tersenyum.

“Assalamu’alaikum…”

Pemilik warung langsung tersenyum lebar.

“Wa’alaikumussalam…”

“Masuk, Bang.”

Aku memperhatikan.

Tidak ada kalimat pembuka tentang produk.

Tidak ada brosur.

Tidak ada penawaran.

Yang pertama dilakukan Bang Usman justru bertanya,

“Gimana kabar anak awak?”

“Sudah sembuh demamnya?”

Aku sedikit terkejut.

Pemilik warung tersenyum bahagia.

“Alhamdulillah.”

“Sudah sekolah lagi.”

Bang Usman mengangguk lega.

“Syukur…”

Barulah beberapa menit kemudian beliau membuka tas canvassing.

Aku baru memahami sesuatu.

Beliau tidak memulai dengan penjualan.

Beliau memulai dengan kepedulian.

Saat kami berjalan menuju warung berikutnya, aku bertanya,

“Bang…”

“Kok abang hafal semua keluarga mereka?”

Bang Usman tersenyum.

“Awak bukan datang cari order saja, Ris.”

“Awak datang bersilaturahmi.”

Beliau lalu menambahkan,

“Dagang itu sunnah Rasul.”

“Kata Nabi…”

“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki berasal dari perdagangan.”

“Kalau awak niatkan ibadah…”

“…insya Allah jualannya ikut berkah.”

Aku hanya mengangguk.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi terasa sangat dalam.

Mungkin…

inilah alasan mengapa begitu banyak perantau Minang tumbuh menjadi pedagang tangguh.

Bukan semata karena pintar berdagang.

Tetapi karena mereka memandang berdagang sebagai jalan ibadah.

Semakin siang…

semakin banyak hal kecil yang membuatku kagum.

Di sebuah warung…

Bang Usman melihat jemuran pakaian jatuh tertiup angin.

Tanpa diminta…

beliau memungutnya.

Mengibaskan sedikit debunya.

Lalu menggantung kembali.

Pemilik rumah bahkan belum sempat menyadarinya.

Di tempat lain…

seorang anak kecil terjatuh.

Tangisnya pecah.

Bang Usman membuka tasnya.

Mengambil satu pouch Eurocandy.

Membuka kemasannya.

Lalu memberikan dua butir permen.

“Nih…”

“Biar jagoan nggak nangis.”

Anak kecil itu langsung tersenyum.

Ibunya berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Bang Usman hanya tertawa kecil.

Beliau tidak mencatatnya sebagai biaya promosi.

Beliau tidak menghitung ROI.

Beliau hanya melanjutkan perjalanan.

Aku kembali terdiam.

Ternyata…

menjual bisa dilakukan dengan cara yang begitu manusiawi.

Menjelang siang…

kami berhenti di sebuah warung tegal.

Warung sederhana yang menjual nasi, sayur, jengkol, dan pete.

Bang Usman mengeluarkan tiga pouch Eurocandy.

Pemilik warung langsung tertawa.

“Bang…”

“Ngapain jual permen di sini?”

“Kita jual nasi.”

“Bukan toko kelontong.”

Bang Usman ikut tertawa.

“Di sini jual jengkol?”

“Iya.”

“Pete?”

“Iya.”

“Nah…”

Beliau mendekat sambil berbisik seolah sedang membocorkan rahasia besar.

“Yang makan di sini…”

“…banyak salesman kan?”

“Iya.”

“Habis makan jengkol…”

“…mulutnya bau naga.”

Pemilik warung langsung tertawa terbahak-bahak.

Bang Usman melanjutkan.

“Kalau ada permen mint…”

“Siapa tahu mereka butuh.”

“Cuma selama ini…”

“…belum ada yang jual.”

Beliau mulai menghitung.

“Satu pouch isinya empat puluh.”

“Harga seratus per butir.”

“Jual tiga butir lima ratus.”

“Marginnya jauh lebih besar daripada sepiring nasi.”

Pemilik warung mulai berpikir.

“Iya juga ya…”

Bang Usman langsung mengambil kesempatan.

“Kalau beli tiga pouch…”

“Awak kasih bonus toples.”

“Dua rasa mint.”

“Satu rasa buah.”

Pemilik warung tersenyum.

“Ya sudah…”

“Tambah satu lagi.”

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Baru beberapa menit.

Jurus SPIN Selling keluar dari mulutnya.

Tak lama, Beliau sudah berhasil melakukan cross selling.

Sekaligus up selling.

Tanpa terlihat sedang menjual.

Di situlah aku memahami…

mengapa Bang Usman menjadi Top 3 Sales Motoris Nasional.

Beliau tidak membawa katalog.

Beliau membawa solusi.

Menjelang sore…

kami berhenti di sebuah warung kopi kecil.

Dua gelas kopi hitam dan sepiring pisang goreng tersaji di meja kayu yang mulai kusam dimakan usia.

Aku memandang Bang Usman.

Sejak pagi…

hampir tiga puluh lima dari empat puluh outlet membeli produk darinya.

Prestasi yang luar biasa.

Aku akhirnya bertanya.

“Bang…”

Beliau menoleh.

“Kenapa?”

“Abang pernah kepikiran pindah jadi Sales Taking Order?”

“Atau Modern Trade?”

“Skill abang luar biasa.”

“Masuk Top 3 Nasional.”

“Karier pasti lebih cepat.”

Bang Usman tersenyum.

Beliau tidak langsung menjawab.

Beliau mengaduk kopi perlahan.

Matanya memandang warung-warung kecil di seberang jalan.

Lalu beliau berkata pelan.

“Ris…”

“Awak senang…”

“…membantu orang buka usaha.”

Aku terdiam.

Beliau melanjutkan.

“Kalau warung kecil ini berkembang…”

“Anaknya bisa sekolah.”

“Dapurnya tetap ngebul.”

“Itu sudah cukup membuat awak bahagia.”

Beliau menyesap kopinya.

“Awak juga senang…”

“…orang kampung bisa beli susu…”

“…kopi…”

“…atau cokelat…”

“Tanpa harus jalan jauh ke pasar.”

Beliau tersenyum.

“Kalau awak yang mendatangi mereka…”

“…bukankah itu juga bagian dari memudahkan orang?”

Aku mulai merasakan tenggorokanku tercekat.

Bang Usman menatapku.

“Biarlah Bang Sofwan menjalankan perannya.”

“Biarlah Bang Marpaung menjaga supermarket.”

“Awak…”

“…cukup menjaga warung-warung kecil.”

“Semua orang punya ladang amalnya masing-masing.”

Aku tidak mampu menjawab.

Rasanya…

ucapan sederhana itu menembus jauh ke dalam dadaku.

Dingin.

Teduh.

Menggetarkan.

Hari itu aku menyadari…

bahwa ukuran kesuksesan seseorang ternyata bukan hanya jabatan.

Tetapi juga seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan bagi orang lain.

Aku pernah mengikuti seminar motivasi di hotel berbintang.

Biayanya jutaan rupiah.

Pembicaranya profesor.

Konsultan.

Motivator terkenal.

Namun…

sepuluh detik kalimat Bang Usman di warung kopi pinggir gang itu…

jauh lebih mengubah cara pandangku tentang kehidupan.

Catatan Salesman’s Diary

“Jangan ukur besarnya pekerjaan dari ukuran outlet yang kita kunjungi. Ukurlah dari besarnya manfaat yang kita tinggalkan ketika pulang.”

🌿 Warisan Mentor #5 — Bang Usman

“Setiap orang punya ladang amalnya masing-masing. Tugas kita bukan mencari yang paling besar, tetapi mengerjakan yang Allah titipkan dengan sebaik-baiknya.”

Pelajaran Faris

Sales terbaik bukan sekadar mengejar omzet. Ia membantu orang lain bertumbuh. Ketika niat berubah menjadi melayani, pekerjaan biasa pun berubah menjadi ibadah.

 

—0—

PENULIS

Doddy Ariesta

Doddy Ariesta Afriyana, SE, C.HRM, C.Trainer, C.SLII, C.SoT, C.NLP, C.PI Analyst, C.P3H

Doddy is a sales practitionerhuman resources practitioner, and businessman, as well as a training master for Salesmanship, Sales management, and Sales Leadership training at Imtiyaz Learning & Consulting, who has 6 certifications ranging from sales, soft skills, leadership, training, personality profiling, and human resources from reputable national and international institutions.

Doddy has worked in a variety of industries for over 22 years, including the restaurant industry, software and application developmentFMCGOil and GasPharmacyDirect SellingMLMAutomotiveSME, and Start-UpExtensive and in-depth experience in local, national, and multinational corporations within the scope of his position roles on a local, national, and global scale.

He began his career as a marketing executive at a Software & Application Development company, as well as a Head of Professor Assistant Corps at FEB UI, after graduating from the Faculty of Economics & Business University of Indonesia (FEB UI). His career progressed until he was trusted to become Head of AreaAssistant ManagerManager, and General Manager in various national and multinational companies. His previous position before deciding to start a learning consulting firm was General Manager Learning & Development at Renault Indonesia and GM HRD & Business Development at start up Blimobil Indonesia.

–0–

logo imtiyaz learnings

Smart Sales Manager 4.0

Judul Sales Manager Training

Smart Sales Manager 4.0

Deskripsi

Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | Bagaimana memahami territory management, breakdown target, mendesain KPI, mendesain insentif, dan mengevaluasi kinerja tim sales, serta memahami 3 peran sales manager secara maksimal yaitu mengelola tugas dengan baik, mengelola waktu, dan mengelola orang lain. Dan juga tanpa melupakan bagaimana kita memanfaatkan artificial intelligence untuk memaksimalkan peran manajemen kita.

Manfaat

Membekali para Sales Manager dengan skill yang tepat dalam mengelola diri dan tim penjualannya, termasuk di dalamnya skill territory management, break down sales target, menyelaraskan pencapaian insentif untuk mencapai target pribadi tim penjualan. Memanfaatkan media sosial, digital, dan artificial intelligence untuk mendapatkan database dan prospek.

Keunggulan

Para Sales Manager mudah memahami konten dari materi training ini, karena mudah diterapkan, inspiratif, juga membekali skill teknis mereka sebagai sales manager. Disempurnakan dengan skill media sosial, digital, dan artificial intelligence yang sangat suportif untuk pencapaian penjualan.

Skill

Smart time management, Smart task management, Smart leader, sales territory management, Smart problem solver and decision maker, smart prospecting, smart database gathering.

Target Peserta Sales Manager Training 

Sales Leader, Sales Manager, Sales Director, Vice President Sales Marketing, General Manager Sales, C-Level

Materi Training
  1. Time Management
  2. Task Management
  3. Territory Manager
  4. Problem Solving
  5. Decision making
  6. Breakdown Sales Target
  7. Prospect Database Gathering
  8. Smart Coaching for high performance.
Durasi

2 Hari

Metode Sales Training 
  • Participative Learning;
  • Group Discussion;
  • Interactive Presentation;
  • Case Study;
  • Impactful Role Play;
  • Simulation; Group Presentation.

 

contact marketing imtiyaz

Hubungi kami untuk mendapatkan penawaran dari program unggulan Imtiyaz Learnings. SALES TRAINING 4.0 adalah program unggulan kami untuk membantu para pimpinan sales mencapai target penjualan perusahaan. Metode pembelajaran yang dijalankan merupakan kolabolasi dari pengalaman tim trainer di dunia sales dengan memanfaatkan kemajuan teknologi terkini.

Address:

H. Nawi Raya No. 191, Gandaria Utara
Kota Jakarta Selatan 12140, Jakarta
Lihat Google Maps  –>> klik disini

Phone / Whatsapp :

0852 8350 0976 (DINI)  –>> klik disini
0812 9581 2288 (DEWA)  –>> klik disini

Email:

dini.mufidah@imtiyazlearnings.com
dewa@imtiyazlearnings.com

Socmed:

LinkedIn : imtiyazlearningconsulting  –>> klik disini
Instagram :  imtiyazlearnings  –>> klik disini

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

Sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

sales training

 

Share to Learn

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top