Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | The Salesman’s Diary : Catatan Perjalanan Seorang Salesman.
MEMASUKI DUNIA YANG SESUNGGUHNYA
Catatan #007

Turun ke Lapangan
Seminggu berlalu tanpa terasa.
Ruang kelas yang selama ini dipenuhi diskusi, simulasi, dan tawa akhirnya mulai terasa terlalu nyaman.
Dan mungkin…
memang itulah sebabnya kami harus segera keluar dari sana.
Pagi itu Pak Elvis berdiri di depan kelas sambil membawa selembar daftar pembagian wilayah.
Beliau tersenyum seperti biasa.
“Selamat.”
“Kalian lulus minggu pertama.”
Beberapa dari kami saling tersenyum bangga.
Lalu beliau melanjutkan,
“Mulai hari ini…”
“…kalian berhenti menjadi peserta training.”
Beliau berhenti sejenak.
“…dan mulai menjadi murid pasar.”
Ruangan langsung hening.
Tidak ada lagi tepuk tangan.
Tidak ada lagi candaan.
Aku menelan ludah.
Inilah saat yang sejak awal kami tunggu.
Turun ke lapangan.
Aku mendapat penugasan di wilayah timur Kota Jayakarta.
Bukan wilayah yang asing.
Tetapi hari itu rasanya benar-benar berbeda.
Karena kali ini aku tidak datang sebagai pembeli.
Aku datang sebagai bagian dari PT Europa Indonesia.
Sebagai seorang Management Trainee Sales.
Motor yang kukendarai memasuki kawasan industri Pulaugadang Besar.
Matahari baru mulai meninggi.
Truk-truk besar lalu-lalang membawa berbagai produk.
Gudang-gudang berjajar seperti benteng raksasa.
Di salah satu sudut kawasan itulah berdiri distributor PT Europa Indonesia.
Bangunannya sederhana.
Tidak semewah kantor pusat.
Tetapi justru di sinilah denyut bisnis sebenarnya dimulai.
Lima unit Colt Diesel terparkir rapi di halaman.
Tiga unit untuk pengiriman.
Dua unit untuk tim canvassing.
Beberapa kernet sedang menaikkan karton susu.
Di sisi lain, seorang checker menghitung ulang jumlah karton kopi yang baru datang dari pabrik.
Gudangnya besar.
Rapi.
Meskipun lapisan debu tipis mulai menempel di lantai semen.
Wajar.
Kawasan industri memang selalu akrab dengan debu.
Namun aroma susu, kopi, cokelat, dan kardus baru yang bercampur menjadi satu menghadirkan suasana yang tidak pernah kutemukan di kantor pusat.
Di sinilah teori berubah menjadi kenyataan.
Hal pertama yang menarik perhatianku justru bukan produk.
Melainkan sebuah mesin berwarna abu-abu yang menempel di dinding.
Di depannya sudah mengantre beberapa salesman.
Satu per satu mereka memasukkan kartu absensi.
CETAK!
Jam kedatangan langsung tercetak.
Mesin Amano.
Teknologi yang saat itu terasa sangat modern.
Aku ikut memasukkan kartu.
07.58
Tepat waktu.
Dua puluh tahun kemudian…
mungkin orang akan menertawakan mesin itu.
Karena semuanya sudah berubah menjadi fingerprint, face recognition, hingga GPS dan geo-tagging.
Tetapi pada awal tahun 2000-an…
mesin itu adalah saksi kedisiplinan ribuan salesman di seluruh Nusantara.
Bahkan…
saat itu kami belum mengenal Google Maps.
Belum ada aplikasi navigasi yang memberi tahu jalan tercepat.
Belum ada titik lokasi outlet yang tinggal diklik.
Kalau ingin mengenal wilayah…
Area Manager harus membeli peta kota berukuran besar.
Lalu menempelkannya di dinding kantor.
Setiap outlet diberi tanda menggunakan paku payung berwarna.
Merah.
Biru.
Hijau.
Kuning.
Semakin lama memimpin wilayah…
semakin penuh pula peta itu oleh titik-titik kecil yang mewakili pelanggan.
Aku baru sadar.
Menjadi Area Manager ternyata sedikit mirip seorang jenderal perang.
Bedanya…
yang dipetakan bukan wilayah musuh.
Melainkan kesempatan.
“Faris?”
Sebuah suara membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri sambil membawa map tipis.
Tubuhnya tidak tinggi.
Kulitnya legam terbakar matahari.
Tetapi sorot matanya tajam.
“Pak Wibisono.”
Beliau mengulurkan tangan.
“Senior Area Manager.”
Jabat tangannya kuat.
Aku langsung memberi hormat kecil.
“Selamat datang di dunia nyata.”
Kalimat pembukanya membuatku tersenyum gugup.
Aku mengira beliau akan langsung memberikan jadwal.
Atau target.
Atau wilayah.
Namun ternyata tidak.
Beliau justru bertanya.
“Plan kamu apa, Ris?”
Aku sempat terdiam beberapa detik.
Pertanyaan itu terasa sederhana.
Tetapi jawabannya menentukan kesan pertama.
Aku menarik napas.
“Selama seminggu di sini…”
“…saya ingin memahami seluruh business process.”
Beliau mengangguk pelan.
Aku melanjutkan,
“Saya ingin belajar menjadi salesman.”
“Lalu ikut sales admin.”
“Delivery.”
“Collection.”
“Semua jenis salesman.”
“Biar saya memahami bisnis ini dari bawah.”
Pak Wibisono menatapku beberapa saat.
Lalu perlahan tersenyum.
“Bagus.”
Hanya satu kata.
Tetapi terasa seperti sebuah persetujuan.
Beliau mengambil daftar nama.
“Kamu ikut Sofwan.”
Beliau menunjuk seorang pria yang sedang memeriksa tumpukan faktur.
“Salesman senior.”
“Top performer.”
“Target hariannya dua puluh lima call.”
“Lima belas effective call.”
“Tiga SKU setiap effective call.”
Beliau menutup mapnya.
“Tapi…”
Beliau menatapku serius.
“Jangan cuma lihat cara dia menjual.”
“Lihat cara dia berpikir.”
“Lihat cara dia memperlakukan orang.”
“Lihat kebiasaan-kebiasaannya.”
Beliau menepuk pelan bahuku.
“Besok pagi…”
“…lapor apa yang kamu pelajari.”
Aku mengangguk mantap.
“Siap, Pak.”
Beliau berbalik.
Lalu berhenti sebentar tanpa menoleh.
“Oh ya…”
“Kalau kamu merasa sudah belajar banyak dari satu minggu ini…”
Beliau tersenyum tipis.
“…berarti kamu belum benar-benar memperhatikan.”
Aku hanya berdiri memandangi beliau berjalan menuju ruang kerjanya.
Dalam hati aku berkata,
“Sepertinya… guru-guru terbaik memang tidak pernah memberi jawaban secara langsung.”
Catatan Salesman’s Diary
“Kelas mengajariku konsep. Lapangan mengajariku kenyataan. Dan sering kali, kenyataan tidak pernah serapi slide presentasi.”
Catatan #008
Bang Sofwan
“Ayo, Ris.”
Seorang pria berkulit sawo matang melambaikan tangan dari samping sebuah sepeda motor bebek berwarna hitam yang catnya mulai kusam dimakan usia.
“Kita berangkat.”
Beliau mengenakan kemeja putih lengan pendek dengan logo PT Kalimanunggal di dada kiri.
Celana kain hitam.
Sepatu pantofel yang terlihat sudah sering menginjak jalanan pasar.
Di saku kirinya terselip tiga bolpoin dengan warna berbeda.
Merah.
Hitam.
Biru.
Di pinggangnya tergantung sebuah tas kecil berisi nota pesanan.
Sederhana.
Tetapi rapi.
“Bang Sofwan?”
tanyaku memastikan.
Beliau tersenyum lebar.
“Iye.”
“Lho Faris ye?”
Aku mengangguk.
“Naik aje.”
Aku langsung duduk di belakang.
Motor tua itu kemudian melaju meninggalkan halaman distributor.
Baru sekitar dua kilometer berjalan…
Bang Sofwan tiba-tiba membelokkan motor ke sebuah gang.
Gang itu cukup lebar.
Di ujungnya terdapat warung kopi sederhana yang dipenuhi belasan motor.
Aku sempat bingung.
“Bang…”
“Kita salah jalan?”
Bang Sofwan tertawa.
“Belom.”
“Kita justru baru mulai kerja.”
Aku semakin heran.
Jam tanganku menunjukkan pukul 08.40.
Di kepalaku masih terbayang materi training.
Target.
Call.
Effective Call.
SKU.
Semua angka itu seolah berkata bahwa kami harus segera ke pasar.
Namun Bang Sofwan justru memarkir motornya.
“Ayo.”
“Ngopi.”
Warung kopi itu ternyata sudah dipenuhi banyak salesman.
Ada yang memakai seragam biru.
Hijau.
Merah.
Kuning.
Logo berbagai perusahaan FMCG memenuhi ruangan kecil itu.
Yang membuatku terkejut…
Mereka tertawa bersama.
Padahal…
setengah dari mereka adalah kompetitor.
“Bang Sofwan!”
teriak seseorang.
“Lama kagak nongol.”
“Baru minggu kemaren gue ke sini.”
jawab Bang Sofwan sambil tertawa.
Aku hanya memperhatikan.
Mereka saling mengejek.
Saling bercanda.
Bahkan saling bertukar informasi tentang kondisi jalan, banjir, hingga toko-toko yang sedang tutup.
Sama sekali tidak terlihat seperti musuh.
Aku akhirnya bertanya pelan.
“Bang…”
“Kok akrab banget sama kompetitor?”
Bang Sofwan menyeruput kopi hitamnya.
Lalu tersenyum.
“Ris…”
“Di pasar…”
“…musuh itu perusahaan.”
“Bukan orangnya.”
Aku terdiam.
Beliau melanjutkan.
“Hari ini kita rebut order.”
“Besok kalau motor gue mogok…”
“…belum tentu orang kantor yang nolong.”
“Bisa jadi justru kompetitor.”
Aku mengangguk pelan.
Beliau kembali berkata,
“Jangan pernah putus silaturahmi.”
“Rezeki gak pernah ketuker.”
Kalimat itu kembali kutanam dalam ingatan.
Obrolan terus mengalir.
Ada yang bercerita soal pelanggan yang baru melahirkan.
Ada yang mengabarkan pedagang langganannya sakit.
Ada pula yang membahas harga cabai yang sedang naik.
Bagiku…
warung kopi kecil itu lebih mirip ruang informasi daripada tempat sarapan.
Semua salesman saling bertukar kabar.
Tanpa sadar mereka sedang memetakan kondisi pasar.
Tiba-tiba salah seorang salesman berkata,
“Wan…”
“Besok Minggu lu ikut gak?”
Bang Sofwan tertawa.
“Kalau ada yang manggil…”
“…gue ikut.”
Aku menoleh.
“Maksudnya?”
Beliau tersenyum.
“Kadang gue bantu cover perusahaan lain.”
Aku mengernyit.
“Lho…”
“Emangnya boleh?”
Beliau tertawa kecil.
“Hari libur.”
“Bukan bawa produk Europa.”
“Bukan juga area distributor gue.”
“Cuma bantu temen.”
“Lumayan.”
“Buat nambah uang sekolah anak.”
Aku hanya mengangguk.
Untuk pertama kalinya aku menyadari…
kehidupan salesman ternyata jauh lebih keras daripada yang kubayangkan.
Sebagian besar dari mereka bekerja bukan demi bonus.
Tetapi demi keluarga.
Tak terasa kopi sudah habis.
Obrolan masih terus berlanjut.
Sesekali terdengar gelak tawa.
Aku melirik jam tangan.
Pukul 09.57.
Jantungku sedikit berdegup.
“Bang…”
“Gak kesiangan?”
Bang Sofwan berdiri.
Mengambil tas notanya.
Lalu menepuk bahuku.
“Yuk.”
“Sekarang kita kerja.”
Aku masih belum mengerti.
“Bukannya pasar udah rame dari pagi?”
Beliau tersenyum sambil menyalakan motor.
“Makanya…”
“Kita jangan datang pas rame.”
Aku semakin bingung.
Beliau melanjutkan sambil menjalankan motor perlahan.
“Jam delapan sampai jam sepuluh…”
“Pedagang lagi sibuk ngelayanin pembeli.”
“Kalau kita datang…”
“…yang ada diusir.”
Aku spontan tertawa.
“Iya juga ya.”
Beliau mengangguk.
“Sales itu…”
“…bukan kerja ikut jam kantor.”
“Sales itu kerja ikut jam pelanggan.”
Kalimat itu terasa sederhana.
Namun bagiku…
itulah pelajaran pertama tentang memahami ritme pasar.
Di kelas kami diajarkan pentingnya disiplin.
Di lapangan, Bang Sofwan mengajarkanku sesuatu yang lebih penting.
Empati terhadap waktu pelanggan.
Motor kami melaju menuju Pasar Rawabangkit.
Aku tidak lagi melihat perjalanan itu sebagai kunjungan ke pasar.
Rasanya seperti sedang memasuki sebuah universitas baru.
Universitas yang dosennya adalah kehidupan.
Dan Bang Sofwan…
adalah guru pertamaku.
Catatan Salesman’s Diary
“Seorang salesman tidak bekerja mengikuti jam kantor. Ia bekerja mengikuti denyut kehidupan pelanggannya.”
Catatan #009
Pasar Tidak Pernah Tidur
Motor Bang Sofwan berhenti di pinggir sebuah jalan yang dipenuhi angkutan kota.
Di kejauhan tampak sebuah gerbang tua bertuliskan:
PASAR RAWABANGKIT
Suara klakson bersahut-sahutan.
Pedagang sayur berteriak menawarkan dagangannya.
Becak dan gerobak saling berebut jalan.
Di sudut lain, aroma ikan asin bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh.
Aku turun dari motor sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Inilah pasar tradisional terbesar yang pernah kudatangi.
Bang Sofwan mematikan mesin motornya.
“Lho parkir sini aje.”
Beliau menunjuk sebidang tanah kosong di pinggir jalan.
“Tapi Bang…”
“Tempat parkir resminya di sana.”
kataku sambil menunjuk bangunan parkir di dalam pasar.
Bang Sofwan tersenyum.
“Di sini lebih cepet keluarnya.”
“Lagian…”
Beliau menoleh ke arah seorang pria bertubuh besar yang sedang duduk di bangku kayu.
“…motor juga lebih aman.”
Pria itu melambaikan tangan.
“Bang Sofwan!”
Bang Sofwan membalas lambaian.
Aku baru sadar.
Semua orang seperti mengenalnya.
Tukang parkir.
Pedagang.
Kuli angkut.
Sampai tukang sapu pasar.
“Lho kenal semua orang, Bang?”
tanyaku.
Bang Sofwan hanya tersenyum.
“Ris…”
“Jangan cuma kenal pemilik toko.”
“Kenalilah semua orang yang hidup di pasar.”
Aku mengernyit.
Beliau melanjutkan sambil mulai berjalan.
“Kadang informasi terbaik…”
“…bukan datang dari pemilik outlet.”
“Tapi dari tukang parkir.”
Aku tersenyum.
Kalimat itu terdengar aneh.
Namun bertahun-tahun kemudian…
aku tahu beliau benar.
Begitu melewati gerbang pasar…
aku seperti memasuki dunia lain.
Lorong-lorong sempit dipenuhi manusia.
Ada ibu-ibu menawar harga bawang.
Ada anak kecil berlari membawa kantong plastik.
Ada pedagang yang sibuk menyusun mi instan.
Ada pula salesman lain yang sedang menulis pesanan.
Suara timbangan.
Suara pisau memotong ayam.
Suara radio dangdut dari kios kaset.
Semua bercampur menjadi satu irama.
Tidak ada yang diam.
Pasar memang tidak pernah tidur.
Bang Sofwan berjalan sangat cepat.
Tangannya sesekali melambai kepada para pedagang.
“Wak Haji!”
“Pagi!”
“Bu Siti…”
“Anaknya dah sembuh?”
“Pak Rudi…”
“Mobilnya udah jadi?”
Aku mulai menyadari sesuatu.
Beliau tidak pernah langsung menawarkan barang.
Beliau lebih dulu menawarkan perhatian.
Orang-orang menyambutnya dengan senyum tulus.
Seolah mereka sedang menyambut saudara yang lama tak berjumpa.
Dalam hati aku berkata,
“Pantas saja beliau menjadi Top Performer.”
Kami akhirnya tiba di deretan kios kelontong.
Di sinilah produk-produk PT Europa Indonesia dijual.
Susu.
Kopi.
Permen.
Minuman cokelat.
Semuanya berjajar di rak-rak kayu.
Bang Sofwan tidak langsung membuka buku pesanan.
Beliau justru berdiri memperhatikan rak selama beberapa detik.
Matanya bergerak cepat.
Seperti sedang menghitung sesuatu.
Aku penasaran.
“Bang…”
“Abang lihat apa?”
Beliau menunjuk rak paling atas.
“Itu.”
Aku mengikuti arah telunjuknya.
“Eurocafe tinggal tiga renteng.”
Beliau menunjuk sisi lain.
“Milko rasa cokelat tinggal dua.”
Kemudian ke rak bawah.
“Eurococho tinggal beberapa sachet.”
Aku terdiam.
Beliau bahkan belum bertanya kepada pemilik toko.
Tetapi sudah tahu barang apa yang hampir habis.
Melihat wajahku yang kebingungan, Bang Sofwan tertawa kecil.
“Ris…”
“Salesman hebat itu…”
“…ngelihat rak.”
“Bukan nunggu pemilik toko ngomong.”
Kalimat itu kembali kutulis dalam hati.
Beliau mengambil satu hanger display yang mulai kosong.
“Hanger ini ompong.”
katanya.
“Kalau display kosong…”
“…konsumen gak lihat.”
“Kalau gak lihat…”
“…gak beli.”
“Sederhana.”
Aku mengangguk.
Ternyata market visibility bukan sekadar istilah di kelas.
Ia hidup di depan mataku.
Belum sempat kami melangkah ke kios berikutnya…
terdengar suara perempuan memanggil dari kejauhan.
“Haaaiii…”
“Bang Sofwaaaan…”
Aku menoleh.
Seorang perempuan muda melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.
Rambutnya dikuncir sederhana.
Apron warna merah muda masih melekat di tubuhnya.
Matanya berbinar-binar.
“Udah lama gak mampir…”
godanya.
Bang Sofwan hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Lah…”
“Baru minggu kemaren, Nem.”
Perempuan itu tertawa kecil.
“Ih…”
“Abang mah selalu banyak alasan.”
Aku berdiri agak kikuk.
Bang Sofwan menoleh kepadaku.
“Ris…”
“Nih kenalin.”
“Inem.”
“Pemilik Toko Berkah Jaya.”
Inem menatapku sambil tersenyum.
“Wah…”
“Anak baru ya?”
Aku mengangguk sopan.
“Iya, Mbak.”
“Management Trainee.”
“Widiiih…”
“Calon bos nih.”
katanya sambil tertawa.
Aku hanya tersipu.
Bang Sofwan tidak larut dalam candaan.
Dengan gerakan yang sangat alami, beliau melirik rak belakang Inem.
“Hmmm…”
“Milko tinggal setengah renteng.”
“Eurocafe kosong.”
“Eurococho tinggal dua.”
Beliau mengambil buku nota.
“Mau saya isi lagi ya?”
Inem mengangguk tanpa berpikir panjang.
“Iya, Bang.”
“Pokoknya abang yang paling tahu.”
Aku memperhatikan dengan kagum.
Beliau bahkan tidak perlu menawarkan.
Order datang dengan sendirinya.
Bukan karena produknya.
Tetapi karena kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Beberapa menit kemudian nota sudah ditandatangani.
Bang Sofwan menyerahkan salinan pesanan.
“Besok pagi dikirim.”
“In syaa Allah.”
Beliau langsung melangkah pergi.
Aku masih sempat menoleh ke belakang.
Inem melambaikan tangan.
“Jangan lama-lama ya Bang…”
“Nanti Inem kangen lagi.”
Aku hampir tertawa.
Namun Bang Sofwan justru mempercepat langkah.
“Bang!”
teriakku.
“Tunggu!”
Aku setengah berlari mengejarnya.
Beliau baru berhenti setelah beberapa kios.
Aku masih terengah-engah.
“Bang…”
“Kok buru-buru amat?”
Beliau tersenyum sambil merapikan tas notanya.
“Petan, Ris.”
“Bisa sejam kalau ditanggepin.”
Aku ikut tertawa.
Lalu beliau tiba-tiba berubah serius.
“Ris…”
“Dengerin abang, ye.”
Aku langsung memperhatikan.
“Di jalanan…”
“…godaan salesman banyak.”
“Bukan cuma perempuan.”
Beliau menghitung dengan jari.
“Judi.”
“Mabuk.”
“Narkoba.”
“Utang.”
“Sampai gaya hidup.”
Beliau menatapku dalam-dalam.
“Kalau lho gak bisa ngalahin godaan…”
“…target sebesar apa pun gak bakal nyelametin hidup lho.”
Aku terdiam.
Kalimat itu menusuk.
Kami kembali berjalan.
Beberapa langkah kemudian aku mencoba menggoda beliau.
“Abang ngomong kayak ustaz aja.”
“Emang abang udah sukses?”
Bang Sofwan tertawa lepas.
Beliau menunjuk deretan angkot yang sedang menunggu penumpang.
“Lho lihat tuh.”
Aku ikut melihat.
“Kenapa, Bang?”
“Lho kira itu punya abang?”
Aku spontan menjawab,
“Punya abang?”
Beliau tertawa semakin keras.
“Yee…”
“Itu mah punya juragannya.”
Kami berdua tertawa bersama.
Lalu beliau kembali menepuk pundakku.
“Tapi gini, Ris…”
Suaranya kali ini jauh lebih pelan.
“Standar orang sukses…”
“…bukan hartanya.”
Beliau menatap ke arah pasar yang masih ramai.
“Tapi hatinya.”
“Orang yang paling kaya…”
“…belum tentu yang paling banyak uangnya.”
“Yang paling kaya adalah…”
“…yang paling kaya jiwanya.”
Aku tidak menjawab.
Entah mengapa…
suara pasar yang riuh seakan menghilang sesaat.
Nasihat itu masuk begitu saja ke dalam hati.
Hari itu aku belajar bahwa seorang salesman tidak hanya menjual produk.
Ia juga sedang menjual integritasnya.
Dan integritas…
selalu lebih mahal daripada target penjualan.
Catatan Salesman’s Diary
“Salesman boleh mengejar omzet setinggi langit. Tetapi jangan pernah kehilangan nilai-nilai yang membuatnya tetap membumi.”
Catatan #010
Jalan Pulang Seorang Salesman
Keluar dari Pasar Rawabangkit, motor Bang Sofwan kembali menyusuri jalanan Kota Jayakarta.
“Nyok…”
“Jalan lagi.”
Aku langsung naik ke boncengan.
“Kemane nih, Bang?”
Bang Sofwan menyeringai.
“Ngambilin duit orang.”
Aku mengernyit.
“Collection.”
Beliau tertawa lebar melihat ekspresiku.
“Jangan panik.”
“Kita bukan debt collector.”
“Kita cuma nagih yang emang udah waktunya dibayar.”
Aku ikut tertawa.
Baru kali ini aku mendengar proses penagihan piutang dijelaskan dengan cara sesantai itu.
Motor kami terus melaju.
Jalan Layur.
Jalan Tawes.
Jalan Persahabatan.
Pulodomba.
Rawabening.
Satu per satu outlet kami datangi.
Ada toko kelontong kecil yang hanya selebar garasi rumah.
Ada toko grosir yang dipenuhi tumpukan kardus hingga ke langit-langit.
Ada pula pelanggan yang langsung mengeluarkan uang tunai begitu melihat Bang Sofwan datang.
“Bang…”
“Nih pembayaran minggu kemarin.”
Ada juga yang meminta tambahan waktu.
“Dua hari lagi ya, Bang.”
Bang Sofwan tidak pernah meninggikan suara.
Tidak pernah memaksa.
Beliau membuka buku piutang.
Mengecek tanggal.
Mengangguk.
“Baik.”
“Tapi jangan lupa ya.”
Selesai.
Tidak ada drama.
Aku memperhatikan setiap percakapannya.
Bagiku…
collection ternyata bukan sekadar menagih uang.
Tetapi menjaga kepercayaan.
Semakin siang…
matahari semakin terik.
Aspal mulai memantulkan hawa panas.
Kemejaku sudah mulai basah oleh keringat.
Singkong goreng dan roti bakar yang kami makan pagi tadi sudah lama habis dicerna.
Perut mulai berbunyi pelan.
Aku baru sadar.
Sejak pagi kami hampir tidak pernah benar-benar berhenti.
“Hidup salesman ternyata…”
“…keras juga.”
gumamku dalam hati.
Sekitar pukul dua siang…
aku mulai mengenali jalan yang kami lalui.
“Bang…”
“Ini kan udah deket kantor distributor.”
Bang Sofwan mengangguk.
“Iye.”
Aku melihat buku notanya.
Semua halaman hampir penuh.
“Abang sengaja muter?”
Beliau tersenyum.
“Nah…”
“Lho mulai ngerti.”
Beliau memperlambat laju motor.
“Dari kantor…”
“…kita ambil area terdekat.”
“Masuk pasar.”
“Habis itu muter.”
“Lalu balik lagi ke kantor.”
Aku mengangguk pelan.
Beliau melanjutkan.
“Hemat bensin.”
“Hemat waktu.”
“Dan…”
Beliau mengangkat buku notanya.
“Target kelar.”
Aku melihat sekilas catatannya.
Hari itu beliau telah mengunjungi sekitar tiga puluh outlet.
Lebih dari dua puluh outlet melakukan pemesanan.
Hampir setiap nota berisi lebih dari tiga SKU.
Aku tidak lagi melihat angka-angka itu sebagai KPI.
Aku melihatnya sebagai hasil dari rute yang dipikirkan dengan matang.
Di kelas…
Pak Doddy menyebutnya Routing Plan.
Di lapangan…
Bang Sofwan menjalankannya tanpa pernah menyebut istilah itu.
Aku tersenyum sendiri.
Kadang…
praktisi memang lebih fasih bekerja daripada menjelaskan teorinya.
Tiba-tiba Bang Sofwan menepikan motor.
Di seberang jalan berdiri sebuah masjid sederhana.
Cat dindingnya mulai memudar.
Tetapi halaman depannya bersih.
“Lho tunggu bentar.”
“Gue mau salat Zuhur.”
Beliau melepas helm.
Lalu menoleh kepadaku.
“Ngomong-ngomong…”
“Lho salat kagak?”
Aku tertawa.
“Ya salatlah, Bang.”
“Nama saya Faris Ahmad.”
Bang Sofwan langsung menyahut cepat.
“Yee…”
“Nama doang mah banyak.”
“Kelakuan kadang…”
“…kayak preman.”
Aku ikut tertawa.
“Mabok lagi.”
Beliau menatapku sambil menggeleng.
“Bukan mabok minuman.”
“Mabok dunia.”
Kalimat itu membuatku diam.
Kami duduk sebentar di teras masjid.
Angin siang berembus pelan.
Bang Sofwan membuka tutup botol air minumnya.
Lalu berkata lirih,
“Ris…”
“Dunia ini lucu.”
“Lho kejar…”
“…dia lari.”
“Lho tinggal…”
“…dia malah ngejar.”
Aku mendengarkan.
Beliau mengambil sebatang ranting kecil.
Menggambar garis di tanah.
“Pernah lihat gurun?”
Aku menggeleng.
“Lho tuangin satu gelas air.”
“Hilang.”
“Tuang lagi.”
“Hilang.”
“Satu drum.”
“Hilang.”
“Satu truk.”
“Hilang juga.”
Beliau menatapku.
“Begitu juga dunia.”
“Kalau lho ngejarnya cuma harta…”
“…gak bakal pernah cukup.”
Aku tidak menjawab.
Karena aku tahu…
yang sedang berbicara bukan sekadar salesman.
Melainkan seorang ayah.
Bang Sofwan berdiri.
Membersihkan celananya.
“Lho salat yang bener.”
“Kalau lho lupa sama Yang di Atas…”
“…siapa lagi yang mau nunjukin jalan?”
Beliau tersenyum.
“Gue punya firasat.”
“Lho bakal lebih sukses daripada gue.”
Aku spontan menjawab,
“Aamiin.”
Beliau mengangkat telunjuknya.
“Tapi…”
“Inget.”
“Semakin tinggi pohon…”
“…semakin besar angin.”
Kalimat itu kembali menancap dalam pikiranku.
Kami berdua berjalan menuju tempat wudu.
Air dingin mengalir membasuh wajah.
Menghapus debu yang sejak pagi menempel.
Entah kenapa…
setiap tetes air terasa membawa ketenangan.
Aku teringat Bang Jafar, guru mengaji di kampungku.
Beliau sering mengulang satu ayat yang baru saat itu benar-benar kupahami maknanya.
“Fa idza faraghta fanshab. Wa ilaa rabbika farghab.”
“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
Aku menatap langit melalui pelataran masjid.
Pagi tadi aku belajar tentang target.
Siang ini aku belajar tentang arah hidup.
Dan aku mulai mengerti…
bahwa perjalanan menjadi salesman bukan hanya tentang mengejar angka.
Tetapi juga menjaga hati agar tidak ikut terseret oleh angka-angka itu.
Shalat Zuhur hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit.
Tetapi nasihat Bang Sofwan…
menemaniku selama puluhan tahun sesudahnya.
Bahkan ketika aku dipercaya memimpin wilayah yang jauh lebih besar.
Ketika omzet yang kukelola mencapai ratusan miliar.
Ketika keputusan-keputusanku memengaruhi ribuan outlet dan ratusan orang.
Aku masih sering teringat salesman sederhana yang pernah berkata di pelataran sebuah masjid kawasan industri,
“Ris… ukuran orang sukses bukan seberapa banyak yang dia punya. Tapi seberapa kuat dia tetap menjadi dirinya ketika dia punya segalanya.”
Catatan Salesman’s Diary
“Target mengajarkan kita cara bekerja. Iman mengajarkan kita untuk apa kita bekerja.”
—0—
PENULIS

Doddy Ariesta Afriyana, SE, C.HRM, C.Trainer, C.SLII, C.SoT, C.NLP, C.PI Analyst, C.P3H
Doddy is a sales practitioner, human resources practitioner, and businessman, as well as a training master for Salesmanship, Sales management, and Sales Leadership training at Imtiyaz Learning & Consulting, who has 6 certifications ranging from sales, soft skills, leadership, training, personality profiling, and human resources from reputable national and international institutions.
Doddy has worked in a variety of industries for over 22 years, including the restaurant industry, software and application development, FMCG, Oil and Gas, Pharmacy, Direct Selling, MLM, Automotive, SME, and Start-Up. Extensive and in-depth experience in local, national, and multinational corporations within the scope of his position roles on a local, national, and global scale.
He began his career as a marketing executive at a Software & Application Development company, as well as a Head of Professor Assistant Corps at FEB UI, after graduating from the Faculty of Economics & Business University of Indonesia (FEB UI). His career progressed until he was trusted to become Head of Area, Assistant Manager, Manager, and General Manager in various national and multinational companies. His previous position before deciding to start a learning consulting firm was General Manager Learning & Development at Renault Indonesia and GM HRD & Business Development at start up Blimobil Indonesia.
–0–
Smart Sales Manager 4.0
Judul Sales Manager Training
Smart Sales Manager 4.0
Deskripsi
Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | Bagaimana memahami territory management, breakdown target, mendesain KPI, mendesain insentif, dan mengevaluasi kinerja tim sales, serta memahami 3 peran sales manager secara maksimal yaitu mengelola tugas dengan baik, mengelola waktu, dan mengelola orang lain. Dan juga tanpa melupakan bagaimana kita memanfaatkan artificial intelligence untuk memaksimalkan peran manajemen kita.
Manfaat
Membekali para Sales Manager dengan skill yang tepat dalam mengelola diri dan tim penjualannya, termasuk di dalamnya skill territory management, break down sales target, menyelaraskan pencapaian insentif untuk mencapai target pribadi tim penjualan. Memanfaatkan media sosial, digital, dan artificial intelligence untuk mendapatkan database dan prospek.
Keunggulan
Para Sales Manager mudah memahami konten dari materi training ini, karena mudah diterapkan, inspiratif, juga membekali skill teknis mereka sebagai sales manager. Disempurnakan dengan skill media sosial, digital, dan artificial intelligence yang sangat suportif untuk pencapaian penjualan.
Skill
Smart time management, Smart task management, Smart leader, sales territory management, Smart problem solver and decision maker, smart prospecting, smart database gathering.
Target Peserta Sales Manager Training
Sales Leader, Sales Manager, Sales Director, Vice President Sales Marketing, General Manager Sales, C-Level
Materi Training
- Time Management
- Task Management
- Territory Manager
- Problem Solving
- Decision making
- Breakdown Sales Target
- Prospect Database Gathering
- Smart Coaching for high performance.
Durasi
2 Hari
Metode Sales Training
- Participative Learning;
- Group Discussion;
- Interactive Presentation;
- Case Study;
- Impactful Role Play;
- Simulation; Group Presentation.

Hubungi kami untuk mendapatkan penawaran dari program unggulan Imtiyaz Learnings. SALES TRAINING 4.0 adalah program unggulan kami untuk membantu para pimpinan sales mencapai target penjualan perusahaan. Metode pembelajaran yang dijalankan merupakan kolabolasi dari pengalaman tim trainer di dunia sales dengan memanfaatkan kemajuan teknologi terkini.
Address:
H. Nawi Raya No. 191, Gandaria Utara
Kota Jakarta Selatan 12140, Jakarta
Lihat Google Maps –>> klik disini
Phone / Whatsapp :
0852 8350 0976 (DINI) –>> klik disini
0812 9581 2288 (DEWA) –>> klik disini
Email:
dini.mufidah@imtiyazlearnings.com
dewa@imtiyazlearnings.com
Socmed:
LinkedIn : imtiyazlearningconsulting –>> klik disini
Instagram : imtiyazlearnings –>> klik disini
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training

