Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | The Salesman’s Diary : Catatan Perjalanan Seorang Salesman.
Bab 2
MEMASUKI DUNIA YANG SESUNGGUHNYA

Hujan, Laporan, dan Sebuah Ruang Kecil Bernama Strategi
Pagi itu langit Jayakarta tampak berbeda.
Sudah berminggu-minggu matahari mendominasi langit ibu kota.
Jalanan mulai berdebu.
Pepohonan terlihat kusam.
Namun pagi itu…
langit seolah sedang menarik napas panjang.
Rintik-rintik hujan mulai turun.
Tidak deras.
Hanya gerimis kecil yang perlahan membasahi bumi.
Butiran air menempel di ujung dedaunan.
Mengalir pelan menuju tanah.
Aroma tanah yang tersiram hujan menyeruak ke udara.
Entah mengapa…
aroma itu selalu menghadirkan rasa tenang.
Seolah-olah hujan tidak hanya membersihkan jalanan.
Tetapi juga membersihkan isi kepala.
Dan mungkin…
isi hati.
Hari itu aku tidak ikut turun ke lapangan.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke Distributor PT Kalimanunggal…
aku duduk seharian di meja administrasi.
Menyusun laporan.
Empat hari terakhir seperti film yang diputar ulang di kepalaku.
Aku mulai menuliskan semuanya.
Mulai dari proses salesman menerima order.
Fakturing.
Gudang.
Loading.
Delivery.
Collection.
Modern Trade.
General Trade.
Sales Motoris.
Hubungan dengan distributor.
Hubungan dengan pedagang.
Hubungan antarmanusia.
Aku baru menyadari…
ternyata menjual bukan sekadar menawarkan barang.
Di balik satu lembar faktur…
ada begitu banyak proses yang saling terhubung.
Kalau satu saja terputus…
seluruh rantai distribusi bisa terganggu.
Menjelang siang…
laporanku selesai.
Aku memeriksanya sekali lagi.
Tidak ada angka yang kulebihkan.
Tidak ada cerita yang kukurangi.
Semua kutulis sebagaimana yang kulihat.
Karena aku percaya…
laporan yang baik bukan dibuat agar menyenangkan atasan.
Tetapi agar membantu perusahaan mengambil keputusan yang benar.
Selesai salat Jumat…
aku mengetuk pintu ruangan Pak Wibisono.
“Masuk.”
Suara beliau terdengar tenang.
Aku membuka pintu perlahan.
Ruangan Senior Area Manager itu jauh lebih sederhana daripada yang kubayangkan.
Tidak luas.
Mungkin hanya cukup untuk lima orang duduk berdiskusi.
Di dinding sebelah kiri tergantung tiga peta besar.
Provinsi Jayakarta.
Kotamadya Jayakarta Timur.
Kotamadya Bagasi.
Puluhan pin warna-warni menempel di atasnya.
Merah.
Kuning.
Hijau.
Biru.
Sebagian diberi lingkaran spidol.
Sebagian lagi diberi catatan kecil.
Belum ada layar LCD.
Belum ada dashboard digital.
Belum ada aplikasi Business Intelligence.
Yang ada…
hanya peta.
Pulpen.
Spidol.
Dan pengalaman puluhan tahun membaca pasar.
Di atas meja kerja Pak Wibi terdapat dua benda yang langsung menarik perhatianku.
Sebuah Working Diary.
Dan sebuah Territory Folder yang mulai kusam di bagian sudutnya.
Pak Wibi mengikuti arah pandangku.
“Silakan lihat.”
Aku membuka Working Diary itu perlahan.
Isinya jauh dari yang kubayangkan.
Bukan catatan mewah.
Bukan laporan yang dicetak berwarna.
Hanya lembar-lembar kertas penuh tulisan tangan.
Namun…
setiap halaman terasa hidup.
Di sana tertulis target harian.
Target bulanan.
Daftar outlet prioritas.
Jadwal kunjungan.
Catatan kompetitor.
Bahkan…
hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah muncul di laporan resmi.
“Pemilik toko sedang sakit.”
“Anak pemilik outlet baru masuk kuliah.”
“Kompetitor pasang rak baru.”
“Warung depan pasar mulai menjual kopi sachet.”
Aku tersenyum sendiri.
Beginikah seorang Area Manager berpikir?
Pak Wibi lalu berkata pelan.
“Semua orang bisa membaca laporan.”
“Tapi…”
“Area Manager harus mampu membaca keadaan.”
Aku terus membuka halaman berikutnya.
Di sana terdapat daftar penetrasi produk.
Berapa SKU Milko yang sudah masuk.
Ukuran mana yang belum.
Kategori mana yang masih kosong.
Eurocafe.
Eurococho.
Eurocandy.
Eurobar.
Semuanya diberi tanda.
Tidak berhenti di sana.
Masih ada halaman pengembangan kategori.
Lalu aktivitas kompetitor.
Lalu catatan ide.
Tidak ada format baku.
Kadang hanya satu kalimat.
Kadang hanya gambar panah.
Kadang hanya tanda bintang.
Aku baru sadar…
Working Diary itu bukan buku catatan.
Melainkan peta pikiran seorang pemimpin lapangan.
Hal lain yang membuatku kagum adalah halaman kunjungan outlet.
Tidak ada target yang kaku.
Namun hampir setiap hari…
Pak Wibi mencatat minimal lima outlet.
Dua atau tiga merupakan outlet Pareto.
Sisanya outlet pengembangan.
Pada hari-hari tertentu…
jumlahnya bisa mencapai dua puluh outlet.
Terutama ketika beliau masuk ke pasar-pasar besar seperti Rawabangkit, Cipenang, atau Prampang.
Aku bergumam dalam hati.
“Pantas saja beliau tahu hampir semua kondisi lapangan.”
Beliau memang tidak memimpin dari balik meja.
Beliau memimpin dari balik debu jalanan.
Aku kembali memperhatikan ruangan itu.
Tidak ada sofa kulit.
Tidak ada meja eksekutif.
Tidak ada pendingin ruangan yang mewah.
Sekat ruangannya hanya berupa tripleks.
Pintu kayunya sederhana.
Bahkan kursi yang digunakan sama persis dengan kursi salesman.
Kursi Chitose merah.
Kursi yang biasa kulihat di hajatan kampung.
Aku tersenyum kecil.
Sungguh kontras dengan Head Office PT Europa Indonesia.
Di sana semuanya terasa modern.
Elegan.
Minimalis bergaya Eropa.
Di sini…
semuanya sederhana.
Tetapi justru di ruangan kecil inilah…
keputusan-keputusan penting tentang ribuan outlet dibuat setiap hari.
Aku mulai memahami sesuatu.
Kemewahan ternyata tidak selalu melahirkan keputusan besar.
Kadang…
keputusan terbesar justru lahir dari ruangan paling sederhana.
Pak Wibi menatapku sambil tersenyum.
“Ris…”
“Gimana?”
“Sekarang kamu mulai mengerti…”
“…kenapa saya lebih sering berada di lapangan daripada di ruangan ini?”
Aku mengangguk pelan.
“Mulai paham, Pak.”
Beliau menutup Working Diary itu perlahan.
“Angka hanya akan memberitahu apa yang terjadi.”
“Lapangan akan memberitahu kenapa itu terjadi.”
Aku menatap beliau cukup lama.
Kalimat itu kembali kutulis di buku kecil yang selalu kubawa.
Aku belum tahu…
bahwa bertahun-tahun kemudian…
kalimat sederhana itu akan menjadi salah satu prinsip kepemimpinanku sendiri.
Catatan Salesman’s Diary
“Data memberi tahu kita apa yang sedang terjadi. Tetapi hanya orang yang turun ke lapangan yang mampu memahami mengapa hal itu terjadi.”
Warisan Mentor #6 — Pak Wibisono
“Pemimpin yang hebat tidak hanya membaca laporan. Ia mampu membaca manusia, pasar, dan keadaan. Karena keputusan terbaik lahir dari keseimbangan antara data dan kenyataan.”
HARI KELIMA DI DISTRIBUTOR
Setiap Orang Membawa Perjuangannya Sendiri
Selesai salat Jumat.
Udara Jayakarta terasa berbeda.
Gerimis sejak pagi meninggalkan aroma tanah yang begitu khas.
Jalanan kawasan industri tampak lebih bersih.
Debu yang beberapa hari terakhir beterbangan seolah ikut hanyut bersama hujan.
Aku mengetuk pintu ruang kerja Pak Wibisono.
“Masuk.”
Ruangan itu tetap sama seperti pertama kali kulihat.
Tidak mewah.
Tidak besar.
Hanya sebuah ruangan sederhana yang dipisahkan tripleks dari ruang salesman.
Di dinding tergantung peta besar wilayah distribusi.
Penuh coretan.
Penuh pin berwarna.
Penuh catatan kecil.
Di atas meja terdapat Working Diary yang mulai kusam karena sering dibuka.
Aku baru sadar…
seorang Area Manager ternyata tidak bekerja dari balik meja.
Meja ini hanya menjadi tempat ia berpikir.
Lapanganlah kantor yang sebenarnya.
Pak Wibi mempersilahkanku duduk.
Beliau membuka laporan yang kususun selama empat hari terakhir.
Beberapa halaman sudah penuh stabilo kuning.
Ada catatan kecil di pinggir.
Ada tanda centang.
Ada pula tanda tanya.
Beliau mengangkat wajah.
“Faris…”
“Laporanmu bagus.”
Aku tersenyum kecil.
“Terima kasih, Pak.”
Beliau menutup map itu perlahan.
“Lalu…”
“Apa yang kamu rasakan setelah empat hari di lapangan?”
Aku berpikir sejenak.
“Saya menikmati semuanya, Pak.”
“Pedagang.”
“Supir.”
“Kenek.”
“Salesman.”
“Gudang.”
“Sales admin.”
“Semuanya.”
Pak Wibi mengangguk pelan.
“Bagus.”
Beliau lalu bersandar.
Tatapannya menerawang ke arah jendela.
“Faris…”
“Di dunia sales…”
“…yang terlihat belum tentu itulah kenyataannya.”
Aku mulai diam.
Aku tahu…
akan ada pelajaran penting lagi.
Cerita yang Tidak Pernah Terlihat
Pak Wibi mengambil gelas kopinya.
Beliau menyeruput pelan.
“Lho kenal Bang Sofwan kan?”
Aku mengangguk.
“Top Performer.”
“Betul.”
“Tapi…”
“…kamu tahu siapa dia sebenarnya?”
Aku menggeleng.
Pak Wibi mulai bercerita.
“Dulu…”
“Sofwan adalah karyawan tetap PT Europa Indonesia.”
“Bersama Marpaung.”
“Dan Usman.”
“Mereka semua terkena restrukturisasi tahun 2000.”
Aku terkejut.
“Mereka pernah jadi karyawan pusat?”
“Iya.”
“Bahkan…”
“Sofwan pernah ditawari menjadi Junior Area Manager.”
Aku spontan bertanya,
“Lalu kenapa ditolak, Pak?”
Pak Wibi tersenyum.
“Karena ibunya.”
Beliau berhenti sejenak.
“Ibunya sudah sepuh.”
“Kalau menerima promosi…”
“…ia harus pindah pulau.”
“Sofwan memilih tinggal.”
“Menemani ibunya.”
Aku menunduk.
Pak Wibi melanjutkan.
“Pesangonnya…”
“…tidak dihabiskan.”
“Dia membeli beberapa rumah kontrakan.”
“Membangun enam kamar kos.”
“Anak sulungnya sekarang belajar hadis di Al-Azhar, Kairo.”
“Anak keduanya kuliah Teknik Sipil.”
“Yang bungsu masih SD.”
“Dan setiap malam…”
“…Sofwan menjadi imam masjid di kampungnya.”
Aku terdiam.
Bayangan Bang Sofwan yang bercanda di pasar…
tiba-tiba berubah menjadi sosok yang jauh lebih besar.
Aku baru sadar…
aku hanya mengenalnya sebagai salesman.
Padahal…
ia sedang membangun peradaban kecil di keluarganya.
Luka Seorang Pemberani
Pak Wibi kembali membuka cerita.
“Kamu lihat jari kelingking Marpaung?”
Aku mengangguk.
“Sedikit bengkok.”
“Itu bukan karena kecelakaan kerja.”
Beliau tersenyum tipis.
“Dulu…”
“Marpaung pernah menangkap copet.”
Aku membelalakkan mata.
Pak Wibi melanjutkan.
“Perempuan yang ditolongnya…”
“…sekarang menjadi ibu mertuanya.”
Aku tertawa kecil.
Pak Wibi ikut tersenyum.
“Waktu itu…”
“Copet mengeluarkan pisau.”
“Marpaung menangkis.”
“Jarinya yang terkena.”
“Sejak itu bentuknya tidak pernah kembali normal.”
Beliau berhenti.
“Hari ini…”
“…Marpaung menjadi pelayan aktif di gerejanya.”
“Mengajar anak-anak.”
“Melayani tanpa dibayar.”
Aku mengangguk pelan.
Ternyata…
bekas luka di tangan seseorang…
kadang adalah tanda keberanian…
bukan kelemahan.
Motor Tua dan Mimpi Besar
Pak Wibi kembali tersenyum.
“Lalu Usman.”
Aku langsung teringat motor tuanya.
Pak Wibi tertawa kecil.
“Kamu pasti mengira dia orang sederhana.”
Aku mengangguk.
“Padahal…”
“…dia anak saudagar besar dari Sumatera.”
Aku benar-benar terkejut.
“Separuh uang pesangonnya…”
“…dipakai membangun rumah singgah.”
“Mushala.”
“Sekolah informal.”
“Bengkel.”
“Toko herbal.”
“Lapak daur ulang.”
“Semuanya untuk membiayai anak-anak jalanan.”
Aku membeku.
“Berapa muridnya, Pak?”
“Hampir seribu.”
Aku tidak sanggup berkata apa-apa.
Seribu anak.
Seorang salesman motoris.
Motor tua.
Tetapi mimpi sebesar langit.
Aku merasa sangat kecil.
Tentang Inem
Pak Wibi tersenyum.
“Kamu masih ingat Inem?”
Aku spontan tersenyum geli.
“Yang menggoda Bang Sofwan?”
Beliau mengangguk.
“Menurutmu dia perempuan seperti apa?”
Aku menjawab hati-hati.
“Periang.”
“Agak genit.”
Pak Wibi tersenyum.
“Itu yang kamu lihat.”
Beliau lalu berkata pelan.
“Inem…”
“…adalah janda.”
“Suaminya meninggal saat bekerja di Taiwan.”
Aku terdiam.
“Setiap hari…”
“…dia datang ke pasar jam dua pagi.”
“Sebelum membuka kios…”
“…dia menyapu mushala.”
“Mengepel.”
“Salat Tahajud.”
“Baru kemudian berdagang.”
Aku tercekat.
Semua prasangkaku runtuh.
Pak Wibi melanjutkan.
“Dia suka menggoda Sofwan.”
“Bukan karena ingin bermain-main.”
“Tapi karena dia percaya…”
“Sofwan tidak akan pernah memanfaatkan kelemahannya.”
Aku memejamkan mata.
Betapa mudahnya aku menilai seseorang…
hanya dari lima menit pertemuan.
Tentang Bu Sanger
Pak Wibi belum selesai.
“Bu Sanger…”
“…yang kemarin memarahi Anto.”
Aku langsung teringat kejadian COD.
Pak Wibi berkata pelan.
“Suaminya mantan perwira Angkatan Laut.”
“Terkena stroke.”
“Sekarang hanya bisa berbaring.”
Aku menghela napas.
“Setiap Jumat…”
“…Bu Sanger menyiapkan dua ratus bungkus makanan.”
“Gratis.”
“Untuk sopir.”
“Kenek.”
“Kuli angkut.”
“Salesman.”
Aku terdiam lama.
Orang yang kemarin kulihat keras…
ternyata diam-diam menjadi tangan yang memberi makan banyak orang.
Aku malu.
Sangat malu.
Tentang Pak Tommy
“Dan Pak Tommy…”
“…tidak sedang mempersulitmu.”
Beliau tersenyum.
“Dia sedang menjalankan tugasnya.”
“Mencari keuntungan terbaik.”
“Itulah bisnis.”
“Yang penting…”
“…tetap profesional.”
Aku mengangguk.
Kini aku benar-benar memahami.
Tidak semua negosiasi adalah permusuhan.
Kadang…
itu hanya dua orang baik…
yang sedang sama-sama memperjuangkan amanahnya.
Pak Wibi menatapku lama.
Lalu berkata dengan suara yang sangat pelan.
“Faris…”
“Data penting.”
“Analisis penting.”
“Target penting.”
“Tetapi…”
“…jangan pernah terburu-buru menghakimi manusia.”
Beliau berhenti.
“Karena…”
“Setiap orang membawa perjuangannya sendiri.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku merasa seperti sedang duduk di hadapan seorang guru kehidupan.
Aku teringat kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir.
Betapa sering manusia menilai hanya dari apa yang tampak.
Padahal…
Allah melihat keseluruhan cerita.
Pak Wibi menutup pembicaraan siang itu dengan satu kalimat yang langsung kutulis besar-besar di halaman terakhir buku catatanku.
Pak Wibi menatapku cukup lama. Tatapannya teduh, tetapi setiap kalimat yang keluar darinya terasa seperti sedang mengukir sesuatu di dalam hati.
“Faris, dalam dunia kerja, terutama di dunia sales, daya kritis terhadap data dan fakta itu sangat penting. Jangan mudah percaya pada asumsi, jangan cepat mengambil kesimpulan hanya dari apa yang tampak di permukaan. Biasakan melihat persoalan secara utuh, dengarkan kedua sisi, lalu ambillah keputusan berdasarkan fakta, bukan prasangka.”
Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
“Tetapi ingat, ketika kita sedang menilai seseorang, jangan hanya gunakan kepala. Libatkan juga hati. Jangan tergesa-gesa menghakimi, karena setiap manusia sedang memikul ujian yang tidak selalu terlihat oleh mata. Ada yang tampak keras karena sedang menanggung beban hidup. Ada yang terlihat dingin karena terlalu sering disakiti. Ada pula yang tampak sederhana, padahal diam-diam sedang menjadi jalan kebaikan bagi begitu banyak orang.”
Aku hanya diam.
Pak Wibi melanjutkan.
“Karena itu, hati kita harus terus diasah agar menjadi Qolbun Saliim—hati yang bersih, hati yang jernih, hati yang mampu melihat manusia dengan kasih sayang, bukan sekadar dengan kecurigaan. Semakin tinggi jabatanmu nanti, semakin banyak keputusan yang harus kamu ambil. Dan setiap keputusan akan menyangkut kehidupan banyak orang. Kalau hatimu tidak bersih, keputusanmu bisa benar menurut angka, tetapi belum tentu adil menurut nurani.”
Beliau kemudian menunjuk peta distribusi yang tergantung di dinding.
“Lihat peta itu. Banyak orang mengira pekerjaan kita hanya menjual susu, kopi, cokelat, atau permen. Padahal hakikat pekerjaan kita jauh lebih besar dari itu. Kita sedang mempermudah perjalanan rezeki. Dari prinsipal kepada distributor. Dari distributor kepada salesman. Dari salesman kepada pedagang kecil. Dari pedagang kepada para pembeli. Dari hasil penjualan itu ada anak yang bisa sekolah, ada keluarga yang bisa makan, ada rumah yang bisa dibangun, ada masjid yang bisa dimakmurkan, bahkan ada sedekah yang terus mengalir. Maka jangan pernah meremehkan sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan amanah.”
Beliau tersenyum.
“Semakin banyak orang yang kita mudahkan urusannya secara profesional, semakin luas pula keberkahan yang Allah titipkan dalam hidup kita. Itulah mengapa saya selalu mengingat satu hadis yang menjadi pegangan saya.”
Beliau mengucapkannya perlahan, seolah ingin memastikan setiap katanya tertanam kuat di dalam benakku.
“Khoirunnaas anfa’uhum linnaas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya.”
Ruangan itu kembali hening.
Pak Wibi lalu menutup nasihatnya dengan kalimat yang tidak pernah kulupakan hingga hari ini.
“Jadilah salesman yang bukan hanya pandai menjual produk, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat. Karena target akan berhenti di akhir bulan, jabatan akan berhenti saat pensiun, tetapi manfaat yang kita tinggalkan bagi orang lain akan terus hidup, bahkan ketika nama kita sudah tidak lagi disebut.”
Aku menundukkan kepala.
Dadaku terasa hangat.
Selama lima hari di distributor…
aku memang belajar menjual.
Tetapi lebih dari itu…
aku belajar mencintai manusia.
Hari itu aku memahami bahwa dunia sales bukan sekadar tentang omzet, target, atau insentif.
Ia adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang profesional, amanah, dan bermanfaat.
Dan mungkin…
itulah makna sesungguhnya dari sebuah karier.
Catatan Salesman’s Diary
“Jangan menilai seseorang dari satu peristiwa. Karena setiap manusia sedang memikul perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh mata.”
—0—
PENULIS

Doddy Ariesta Afriyana, SE, C.HRM, C.Trainer, C.SLII, C.SoT, C.NLP, C.PI Analyst, C.P3H
Doddy is a sales practitioner, human resources practitioner, and businessman, as well as a training master for Salesmanship, Sales management, and Sales Leadership training at Imtiyaz Learning & Consulting, who has 6 certifications ranging from sales, soft skills, leadership, training, personality profiling, and human resources from reputable national and international institutions.
Doddy has worked in a variety of industries for over 22 years, including the restaurant industry, software and application development, FMCG, Oil and Gas, Pharmacy, Direct Selling, MLM, Automotive, SME, and Start-Up. Extensive and in-depth experience in local, national, and multinational corporations within the scope of his position roles on a local, national, and global scale.
He began his career as a marketing executive at a Software & Application Development company, as well as a Head of Professor Assistant Corps at FEB UI, after graduating from the Faculty of Economics & Business University of Indonesia (FEB UI). His career progressed until he was trusted to become Head of Area, Assistant Manager, Manager, and General Manager in various national and multinational companies. His previous position before deciding to start a learning consulting firm was General Manager Learning & Development at Renault Indonesia and GM HRD & Business Development at start up Blimobil Indonesia.
–0–
Smart Sales Manager 4.0
Judul Sales Manager Training
Smart Sales Manager 4.0
Deskripsi
Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | Bagaimana memahami territory management, breakdown target, mendesain KPI, mendesain insentif, dan mengevaluasi kinerja tim sales, serta memahami 3 peran sales manager secara maksimal yaitu mengelola tugas dengan baik, mengelola waktu, dan mengelola orang lain. Dan juga tanpa melupakan bagaimana kita memanfaatkan artificial intelligence untuk memaksimalkan peran manajemen kita.
Manfaat
Membekali para Sales Manager dengan skill yang tepat dalam mengelola diri dan tim penjualannya, termasuk di dalamnya skill territory management, break down sales target, menyelaraskan pencapaian insentif untuk mencapai target pribadi tim penjualan. Memanfaatkan media sosial, digital, dan artificial intelligence untuk mendapatkan database dan prospek.
Keunggulan
Para Sales Manager mudah memahami konten dari materi training ini, karena mudah diterapkan, inspiratif, juga membekali skill teknis mereka sebagai sales manager. Disempurnakan dengan skill media sosial, digital, dan artificial intelligence yang sangat suportif untuk pencapaian penjualan.
Skill
Smart time management, Smart task management, Smart leader, sales territory management, Smart problem solver and decision maker, smart prospecting, smart database gathering.
Target Peserta Sales Manager Training
Sales Leader, Sales Manager, Sales Director, Vice President Sales Marketing, General Manager Sales, C-Level
Materi Training
- Time Management
- Task Management
- Territory Manager
- Problem Solving
- Decision making
- Breakdown Sales Target
- Prospect Database Gathering
- Smart Coaching for high performance.
Durasi
2 Hari
Metode Sales Training
- Participative Learning;
- Group Discussion;
- Interactive Presentation;
- Case Study;
- Impactful Role Play;
- Simulation; Group Presentation.

Hubungi kami untuk mendapatkan penawaran dari program unggulan Imtiyaz Learnings. SALES TRAINING 4.0 adalah program unggulan kami untuk membantu para pimpinan sales mencapai target penjualan perusahaan. Metode pembelajaran yang dijalankan merupakan kolabolasi dari pengalaman tim trainer di dunia sales dengan memanfaatkan kemajuan teknologi terkini.
Address:
H. Nawi Raya No. 191, Gandaria Utara
Kota Jakarta Selatan 12140, Jakarta
Lihat Google Maps –>> klik disini
Phone / Whatsapp :
0852 8350 0976 (DINI) –>> klik disini
0812 9581 2288 (DEWA) –>> klik disini
Email:
dini.mufidah@imtiyazlearnings.com
dewa@imtiyazlearnings.com
Socmed:
LinkedIn : imtiyazlearningconsulting –>> klik disini
Instagram : imtiyazlearnings –>> klik disini
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
Sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training
sales training

