Sales Leadership Training ~ Imtiyaz Learnings | Dari “I Do – We Do – You Do” ke Kepemimpinan Sales yang Membumi. Memimpin tim sales di tempat baru selalu menjadi ujian kepemimpinan yang sesungguhnya. Tantangannya berlapis: area baru, karakter pasar yang berbeda, budaya kerja yang belum sepenuhnya dipahami, serta dinamika paling sensitif yaitu memimpin tim sales yang usianya lebih senior dan pengalamannya lebih panjang.
Banyak sales manager baru, terutama yang usianya lebih muda atau berlatar belakang Management Trainee, terjebak pada dua ekstrem. Terlalu otoriter demi “menunjukkan posisi”, atau terlalu permisif karena merasa sungkan pada senioritas. Keduanya sama-sama berisiko.
Di sinilah falsafah kepemimpinan Ki Hajar Dewantara menjadi sangat relevan dan kontekstual untuk dunia sales modern. Tiga prinsip legendarisnya: Ing Ngarso Sung Tulodo; Ing Madyo Mangun Karso; Tut Wuri Handayani yang sejalan secara alami dengan konsep manajemen modern I Do – We Do – You Do.
Dan yang terpenting, falsafah ini bukan sekadar filosofi indah, tapi sangat operasional di lapangan sales.

1. Ing Ngarso Sung Tulodo (I Do): Keteladanan sebagai Mata Uang Utama Trust
Ketika sales manager baru masuk ke area dan tim baru, satu pertanyaan diam-diam muncul di benak tim sales:
“Dia ini benar-benar bisa jualan, atau hanya pintar bicara?”
Di dunia sales, trust tidak dibangun dari jabatan, tetapi dari contoh nyata.
Apa arti Ing Ngarso Sung Tulodo dalam konteks sales?
Pemimpin berada di depan, memberi teladan. Bukan hanya soal target dan KPI, tetapi bagaimana cara bekerja di lapangan.
Contoh aplikatif:
- Sales manager baru ikut turun ke outlet yang terkenal “sulit ditangani”
- Ia melakukan pendekatan langsung ke owner atau PIC
- Menunjukkan cara membuka percakapan, menggali kebutuhan, menangani keberatan
- Menutup dengan closing yang realistis, dan menerima jika belum deal
Yang penting bukan selalu berhasil closing, tetapi menunjukkan sikap pantang menyerah, kreatif, dan profesional.
Misalnya:
- Ketika ditolak, ia tidak menyalahkan outlet
- Ketika harga dipermasalahkan, ia tidak defensif
- Ketika kompetitor kuat, ia tetap fokus pada value proposition
Dari situ tim melihat:
- Cara bicara
- Cara bersikap saat gagal
- Cara berpikir saat situasi sulit
Keteladanan seperti ini jauh lebih kuat daripada 20 slide training.
Catatan penting:
Ing Ngarso bukan berarti micromanaging atau ingin terlihat paling jago. Justru sebaliknya, pemimpin turun ke depan untuk membuka jalan, bukan untuk mencuri panggung.

2. Ing Madyo Mangun Karso (We Do): Hadir Bersama Tim, di Saat Mudah dan Sulit
Setelah trust awal mulai terbentuk, fase berikutnya adalah membangun rasa kebersamaan dan energi kolektif.
Inilah makna Ing Madyo Mangun Karso, pemimpin berada di tengah, bersama tim.
Dalam praktik sales, ini berarti:
- Pemimpin ikut join visit, bukan hanya saat target tinggi, tapi juga saat area sedang drop
- Pemimpin hadir dalam diskusi problem outlet, bukan hanya review angka
- Pemimpin ikut memikirkan solusi, bukan sekadar menuntut hasil
Contoh konkret:
- Saat ada outlet churn, pemimpin ikut menganalisis penyebabnya bersama tim
- Saat ada program promosi baru, pemimpin ikut uji coba pitching bersama sales
- Saat target terasa berat, pemimpin membantu memecah target menjadi langkah yang masuk akal
Di fase We Do, pemimpin:
- Membangun motivasi lewat kebersamaan
- Menumbuhkan komitmen lewat empati
- Mengembangkan kompetensi lewat diskusi dan praktik bersama
Bagi tim sales yang lebih senior, fase ini sangat krusial. Mereka tidak butuh “digurui”, tapi ingin dihargai pengalamannya.
Sales manager yang efektif akan:
- Bertanya lebih dulu sebelum memberi solusi
- Mengajak diskusi, bukan memberi instruksi sepihak
- Mengakui keunggulan anggota tim tertentu secara terbuka
Di sinilah gap usia mulai mencair, karena yang bekerja bukan ego, melainkan tujuan bersama.

3. Tut Wuri Handayani (You Do): Memberi Ruang, Menjaga Arah
Setelah tim mulai solid dan kompeten, pemimpin yang matang tahu satu hal penting:
tidak semua harus dikendalikan langsung.
Tut Wuri Handayani berarti pemimpin berada di belakang, memberi dorongan dan kepercayaan.
Namun perlu digarisbawahi:
Memberi kepercayaan bukan berarti melepas kontrol sepenuhnya.
Implementasi dalam sales leadership:
- Sales yang sudah mahir diberi ruang menentukan strategi pendekatan outlet
- Pemimpin tidak mengatur detail harian, tapi fokus pada outcome
- Diskusi bergeser dari “bagaimana caranya” ke “apa insight-nya”
Contoh:
- Sales senior diberi kebebasan mengelola key account
- Mereka diberi target dan boundary yang jelas
- Namun cara mencapai target diserahkan pada mereka
Peran pemimpin di fase ini adalah:
- Monitoring berbasis data, bukan asumsi
- Coaching berbasis insight, bukan instruksi
- Intervensi hanya saat diperlukan
Inilah fase You Do, di mana tim merasa:
- Dipercaya
- Dihargai
- Dianggap profesional
Dan menariknya, ketika kepercayaan diberikan dengan tepat, kinerja sering kali justru meningkat.

Monitoring Tetap Penting, tapi Sesuai Kadarnya
Ketiga falsafah ini bukan fase yang kaku dan linear. Dalam realitas sales:
- Ada anggota tim yang masih butuh I Do
- Ada yang ideal di We Do
- Ada yang sudah siap You Do
Tugas pemimpin adalah menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan tingkat kematangan tim.
Monitoring tetap dilakukan, tetapi:
- Berbasis KPI yang disepakati
- Transparan dan adil
- Fokus pada perbaikan, bukan penghakiman
Pemimpin sales yang efektif bukan yang paling sering bicara, tetapi yang paling tepat hadir di posisi yang dibutuhkan timnya.
Penutup: Kepemimpinan Sales adalah Soal Waktu dan Kebijaksanaan
Memimpin tim sales di tempat baru, apalagi dengan anggota yang lebih senior, bukan soal membuktikan siapa paling pintar. Ini soal membaca situasi, membangun trust, dan mengelola energi manusia.
Falsafah Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan tentang posisi, melainkan peran yang terus bergerak:
- Kadang di depan
- Kadang di tengah
- Kadang di belakang
Dan justru di situlah letak kekuatan seorang sales leader sejati.
Karena pada akhirnya,
target tercapai bukan karena pemimpin paling keras, tetapi karena tim paling percaya.
—0—
PENULIS

Doddy Ariesta Afriyana, SE, C.HRM, C.Trainer, C.SLII, C.SoT, C.NLP, C.PI Analyst, C.P3H
Doddy is a sales practitioner, human resources practitioner, and businessman, as well as a training master for Salesmanship, Sales management, and Sales Leadership training at Imtiyaz Learning & Consulting, who has 6 certifications ranging from sales, soft skills, leadership, training, personality profiling, and human resources from reputable national and international institutions.
Doddy has worked in a variety of industries for over 22 years, including the restaurant industry, software and application development, FMCG, Oil and Gas, Pharmacy, Direct Selling, MLM, Automotive, SME, and Start-Up. Extensive and in-depth experience in local, national, and multinational corporations within the scope of his position roles on a local, national, and global scale.
He began his career as a marketing executive at a Software & Application Development company, as well as a Head of Professor Assistant Corps at FEB UI, after graduating from the Faculty of Economics & Business University of Indonesia (FEB UI). His career progressed until he was trusted to become Head of Area, Assistant Manager, Manager, and General Manager in various national and multinational companies. His previous position before deciding to start a learning consulting firm was General Manager Learning & Development at Renault Indonesia and GM HRD & Business Development at start up Blimobil Indonesia.
–0–
Smart Sales Manager 4.0
Judul Sales Manager Training
Smart Sales Manager 4.0
Deskripsi
Sales Training ~ Imtiyaz Learnings | Bagaimana memahami territory management, breakdown target, mendesain KPI, mendesain insentif, dan mengevaluasi kinerja tim sales, serta memahami 3 peran sales manager secara maksimal yaitu mengelola tugas dengan baik, mengelola waktu, dan mengelola orang lain. Dan juga tanpa melupakan bagaimana kita memanfaatkan artificial intelligence untuk memaksimalkan peran manajemen kita.
Manfaat
Membekali para Sales Manager dengan skill yang tepat dalam mengelola diri dan tim penjualannya, termasuk di dalamnya skill territory management, break down sales target, menyelaraskan pencapaian insentif untuk mencapai target pribadi tim penjualan. Memanfaatkan media sosial, digital, dan artificial intelligence untuk mendapatkan database dan prospek.
Keunggulan
Para Sales Manager mudah memahami konten dari materi training ini, karena mudah diterapkan, inspiratif, juga membekali skill teknis mereka sebagai sales manager. Disempurnakan dengan skill media sosial, digital, dan artificial intelligence yang sangat suportif untuk pencapaian penjualan.
Skill
Smart time management, Smart task management, Smart leader, sales territory management, Smart problem solver and decision maker, smart prospecting, smart database gathering.
Target Peserta Sales Manager Training
Sales Leader, Sales Manager, Sales Director, Vice President Sales Marketing, General Manager Sales, C-Level
Materi Training
- Time Management
- Task Management
- Territory Manager
- Problem Solving
- Decision making
- Breakdown Sales Target
- Prospect Database Gathering
- Smart Coaching for high performance.
Durasi
2 Hari
Metode Sales Training
- Participative Learning;
- Group Discussion;
- Interactive Presentation;
- Case Study;
- Impactful Role Play;
- Simulation; Group Presentation.

Hubungi kami untuk mendapatkan penawaran dari program unggulan Imtiyaz Learnings. SALES TRAINING 4.0 adalah program unggulan kami untuk membantu para pimpinan sales mencapai target penjualan perusahaan. Metode pembelajaran yang dijalankan merupakan kolabolasi dari pengalaman tim trainer di dunia sales dengan memanfaatkan kemajuan teknologi terkini.
Address:
H. Nawi Raya No. 191, Gandaria Utara
Kota Jakarta Selatan 12140, Jakarta
Lihat Google Maps –>> klik disini
Phone / Whatsapp :
0852 8350 0976 (DINI) –>> klik disini
0812 9581 2288 (DEWA) –>> klik disini
Email:
dini.mufidah@imtiyazlearnings.com
dewa@imtiyazlearnings.com
Socmed:
LinkedIn : imtiyazlearningconsulting –>> klik disini
Instagram : imtiyazlearnings –>> klik disini

